Perjalanan ke Habitat Terakhir Badak Jawa

Perjalanan di TNUK
Sumber :
  • U-Report

Dermaga pulau Handeuleum tak beda kesepiannya, dia hanya menunggu kapal-kapal yang diharapnya bersandar. Jika dia bisa bicara, pasti bahagia rasanya didatangi kami yang ceria sekali malam itu. Sebenarnya kami lelah, tapi dermaga itu telah memberikan kebahagian pada kami lagi, lampunya yang tidak terlalu terang mencoba memberi kami cahaya dan menuntun kami pada tempat penginapan.

Aku membayangkan betapa indah melihat mentari muncul dibalik selimut malamnya, datang memberikan  ke seisi pulau dan lainnya. Keindahan yang tak terbantahkan, rasanya aku ingin sekali menuliskan sepenggal cerita hidupku di sini. Di antara deburan ombak yang saling mengejar, di antara pulau-pulau yang kesepian.

Di antara besi yang perlahan korosi dan kayu yang mulai lapuk, aku bersyukur telah dipanjangkan umur dan Tuhan  telah memberikan  kesempatan aku untuk dapat melihat keindahan ciptaanya lagi. Hanya satu pintaku kala itu, “bantu kami menjaga keindahan ini Tuhan, berikan kami daya dan upaya untuk dapat menunjukannya kelak kepada anak cucu kami”.

Hari kedua, 10 Nopember 2015.

Hari ini kami akan canoing ke Cigenter dan melihat kehidupan mereka dari dekat. Untuk memulainya kami sarapan terlebih dahulu yang menjadi sarapan terenak di dunia. Bayangkan saja, jauh dari hiruk pikuk kota dan penduduk, makanan kami lezat sekali, ayam, tempe, tahu, sayur, ikan dan tidak ketinggalan lalapan terbaiknya. Spot paling tepat untuk sarapan disini tentu saja menghadap ke laut.

Tetapi jangan kaget jika sewaktu makan bakal ada rusa yang datang menghampiri untuk ikut meminta makan. Rusa di pulau ini telah berubah kebiasaannya dari herbivora menjadi omnivora. Dia memakan apapun yang diberikan penghuni pulau, hal ini dikarenakan musim kemarau telah membuat rumput yang harusnya hijau jadi kering kerontang. Dan daun-daun yang harusnya mereka dapat nikmati telah meranggas karena jatuh menguning untuk mengurangi penguapan batang pohon.

Di sini tenang sekali, seperti pertanyaan dalam sebuah film “Gravity”, apa sebenarnya yang membuat manusia merasa harus mengasingkan diri? Mengapa begitu menyukai keheningan? Seperti di luar angkasa misalnya?. Jawabannya karena itu bisa menimbulkan kedamaian dan ketenangan. Berapa juta orang yang terjebak di antara kesibukan yang mendera, harus melakukan rutinitas yang aduhai sangat membosankan sekali. Aku mengerti sekarang mengapa ketenangan dan kedamaian adalah kunci kebahagian dan berharga sangat mahal sekali. Banyak orang telah mengacuhkannya dan perlahan-lahan menganggap itu tidak penting. Kasihan sekali.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Belajar Mengulik Kuliner dari Pak Bondan
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut