Halaman Selanjutnya
Pulau Handeuleum telah menjadi penyelamat ratusan orang atau mungkin bahkan ribuan orang yang telah mendatanginya. Tempat ini seperti menegur kita untuk rehat sejenak dari perjalanan hidup yang teramat melelahkan. Bagi siapapun yang datang ke pulau ini, aku yakin, pulau ini akan ada di cerita kehidupannya sebagai kenangan indah. Menjadi tempat yang ingin dikunjunginya lagi manakala berhadapan dengan kehidupan yang amat membosankan, yang membutuhkan tempat menyepi dan jauh dari hingar bingar kota.Perjalanan ke Cigenter tidak membutuhkan waktu lama, hanya 15 menit. Kami telah sampai di muara Sungai Cigenter. Berjalan diantara tepian pulau yang jaraknya hanya hitungan meter saja. Tentu selat ini tidak ada namanya, yang jelas celah lautan diantara Pulau Handeuleum dan Semenanjung Ujung Kulon ini. Ciri yang khas yaitu tepian yang ditumbuhi mangrove dan hutan khas pantai.Perahu yang kami tumpangi berkapasitas 30-40 orang, tapi kami hanya 22 orang saja, itu sudah termasuk petugas Kapal dan petugas Taman Nasional Ujung Kulon. Perahu berukuran besar ini tampak leluasa untuk kami bermain dan sekadar berfoto ria, selfie istilah kekiniannya. Beberapa jepretan telah mendokumentasikan gambar kami yang senang bukan kepalang.Ada para blogger dari jauh seperti Yogya, dan orang terbaik dari media termahsyur di Indonesia seperti VoxPop.co.id, Kompas, Media Indonesia, National Geographic, Banten Pos, dan Satelit Pos, serta dua mahasiswa dari IPB dan Universita Jenderal Soedirman yang merupakan para pemenang Lomba Menulis Cerita Anda, sama sepertiku.Kami saling bertukar cerita dan berbagi pengalaman hidup. Saling mewarnai kisah-kisah hidup dengan cerita-cerita berkesan dan sulit dilupakan. Diantaranya ada yang tertular virus merah jambu, atau sekadar saling nyaman, tidak pasti tepatnya. Mereka menjadi keluarga kami yang baru, keluarga yang terlahir dari perjalanan yang menyenangkan dalam kesyukuran menikmati ciptaan Tuhan.Ketika masuk ke Sungai Cigenter, kita dihadapkan dengan sungai berarus rendah dan berwarna kehijauan. Petugas bilang dalamnya 3-6 meter, dan banyak ikan di area ini dan tentu saja tidak boleh ditangkap karena masuk kawasan perairan Taman Nasional Ujung Kulon. Hal yang pertama kali terbayangkan yaitu seperti memasuki sungai Amazon di Amerika Selatan (Brazil).Tepi sungai ditumbuhi jenis Famili Palmae dengan tipe buah buni, seperti buah pandan yang menjuntai. Kayu-kayu besar yang condong kesana-kemari dan malang-melintang di sungai menjadi aral rintangan yang harus kami lewati. Di dalam hatiku kadang menyeruak, adakah seekor ular Anaconda atau buaya air tawar yang siap menyergap kami? Sepertinya pikiranku terbawa suasana ketika menonton film barat yang ekstrim seperti itu.Kano yang kami naiki, kami dayung perlahan, membelah dan memecah perairan yang tenang. Tidak ada suara apa-apa selain riuh Burung Rangkong yang berebut makanan atau mungkin juga sedang kawin. Sungai ini cukup menyeramkan, lebar badan sungainya 10-15 meter ketepian, ada jejak kaki entah Banteng (Bos javanicus) atau Badak (Rhinoceros sondaicus) di tepi sungai yang setengah basah dan berlumpur.Sungai ini relatif bersih, tidak ada sampah plastik, yang ada hanya sampah reranting dan daun-daun yang terjatuh karena pohon meranggas karena usia. Itupun tidak banyak jumlahnya, bisa dihitung dengan jemari. Saya yakin kita semua sangat ketakutan, hanya petugas yang saling berbisik dan saling menimpali lelucon yang semuanya full dalam bahasa sunda.Sesampainya di lokasi Rhino Monitoring Unit (RMU) kami dijelaskan bagaimana kehidupan badak liar dihabitatnya oleh petugas. Hal yang unik yaitu adanya tempat makan yang mereka sebut sebagai restoran. Tempat badak menghabiskan waktu untuk menikmati pucuk-pucuk tanaman Bangban (Donax cannaeformis) dan Tepus (Amomum spp).Sebenarnya ada 253 jenis tanaman menurut petugas yang bisa menjadi makanan badak dikawasan Ujung Kulon, namun invasi tanaman Langkap (Arenga obtusifolia) telah mengurangi keberadaan mereka dan tutupan langkap juga mempengaruhi pertumbuhan mereka. Penelitian yang pernah dilakukan, Langkap memiliki kemampuan alelopati pada sistem perakaran dan menyebabkan taman lain yang ada dibawahnya tidak dapat tumbuh dengan baik atau sulit tumbuh.Setengah hari kami berjalan dibawah belanatara tapi tidak menemukan apa-apa, hanya ada kubangan dan bekas badak menggesekan badannya ke permukaan kulit pohon, beserta kamera trap yang dirancang tim RMU untuk mengamati perkembangan badak agar bisa dimonitoring dengan baik. Petugas RMU ada yang menunjukan cara kerja kamera itu dan mengambil setiap gambar yang bergerak di depannya.Kala itu mendung tiba, awan hitam menggelayut di antara langit-langit Semenanjung Ujung Kulon. Pertengahan hari kami segera kembali pulang dengan perasaan yang was-was, khawatir hujan akan mendera. Ini akan sangat merepotkan manakala kami berada di kano dengan aliran sungai yang bisa saja berubah menjadi sangat deras.Perasaan kecewa tentu ada, tapi kami cukup tahu diri. Dengan jumlah kami yang hampir dua lusin ini mana mungkin kami bertemu dengan badak. Mereka akan berlari terbirit-birit manakala mendengar suara kami yang gaduh dan sangat mengganggu. Cerita beberapa petugas yang kebetulan pernah bertemu dengan Badak Jawa membuat kami senang, karena kami telah berkunjung ke rumahnya. Masalah yang punya rumah tidak ingin menemui atau sedang tidak ada di rumah itu soal lain. Ada rasa pesimis ketika perjalanan pulang ke Handeuleum lagi. Hanya Semenanjung Ujung Kulon ini tempat mereka akhirnya harus memasrahkan diri dan hidup.Sepanjang siang di pulau Handeuleum aku mengamati beberapa tumbuhan yang hidup di antara karang-karang dan pasir yang begitu menyulitkan untuk dapat hidup. Mereka bertahan dengan memaksa diri untuk bisa mengirim air dan garam mineral melalui pembuluh xilem yang tak henti berkerja. Hingga akhirnya selalu ada kesuksesan dari lelahnya bertahan, yaitu bunga yang indah di karang yang kering.Setelah bersiap, tempat selanjutnya yang menjadi persinggahan adalah Paniis, sekitar 20 menit dari Taman Jaya. Perjalanan dari Pulau Handeulum memakan waktu satu jam lebih ke Paniis. Ombak-ombak menjadi sangat garang, arus membuat kami terombang ambing, percikan air tidak jarang muncrat sampai di wajah kami yang lelah. Rasa asin yang sampai pada indra pengecap membuat kami beringsut mencari perlindungan agar terbebas dari percikan air laut. Perlahan kami meninggalkan Handeleum dan meninggalkan sejuta kenangan yang akan selalu kami kenang. Selamat tinggal Hadeuleum.Kini tampak lagi punggung Pegunungan Honje yang membentang, puncak tertingginya yaitu 620 meter. Tidak terlalu tinggi untuk sebuah gunung, atau mungkin juga tidak diklasifikasikan menjadi gunung. Perlahan dermaga Taman Jaya mulai nampak, bentuk dan rupanya tidak banyak jauh berbeda dengan dermaga Pulau Handeuleum. Barisan nyiur (Cocos nucifera) adalah satu satunya yang kontras dengan Handeulum. Kehidupan disini juga lebih ramai, bahkan sangat ramai. Ini adalah perkampungan masyarakat yang hampir ujung sebelum Ujung Jaya. Desa terakhir yang berdekatan dengan Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.