Cinta dari Emak Sang Guru Petualang

Emakku, sang guru petualangku.
Sumber :
  • U-Report

VoxPop.co.id – Masih kuingat jelas saat aku kecil dulu, keluargaku bukanlah tipe yang sanggup melakukan piknik dan berlibur bersama setiap bulan. Kami hanya keluarga kecil biasa. Kami bukan keluarga yang kekurangan, namun juga tak memiliki uang yang lebih. Hal yang paling aku ingat, aku adalah seorang perengek dan peminta. Jika keinginanku tak dipenuhi, aku tidak akan segan-segan lagi untuk menangis, bahkan hingga tetangga sebelah terkadang mendatangi orangtuaku karena tak tahan dengan tangisanku.

img_title Inilah Pemenang Cerita Favorit Anda Periode II

Begitupun saat aku tahu atau mendengar tetanggaku akan piknik atau rekreasi ke pantai. Aku menangis keras di dalam kamar, merengek kepada kedua orangtuaku agar aku juga diajak piknik seperti mereka. Padahal saat itu aku belum tahu apa itu arti piknik. Hanya saja saat tetanggaku bilang akan piknik dengan muka senang, aku pikir itu pasti sesuatu hal yang menyenangkan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Saat itu ayah dan emakku hanya terdiam sembari menatapku, hingga aku tertidur karena telah lelah menangis.

Pelajaran bertualang pertama, saat itu aku baru kelas 3 Sekolah Dasar. Pada Minggu pagi tiba-tiba emak mengajakku piknik ke kebun binatang kota. Aku hanya pergi berdua bersama emak. Sedikit cerita tentang ayah, ayahku adalah seorang wiraswasta, ia tak pernah mengenal hari libur. Perjalanan paling berkesan yang kuingat bersama ayah adalah saat aku digendongnya ke taman kota di sore hari untuk menyaksikan pertunjukan topeng monyet keliling. Kami naik mobil “Apel”, begitu saya menyebut angkutan umum berwarna hijau di kota kami dulu, sebelum akhirnya berjalan kaki cukup jauh karena jalan tak dapat dilalui mobil.

img_title Islam Alat Radikalisme?

Di kebun binatang, aku baru tahu jika gajah itu tak berwarna pink dan benar-benar sangat besar, setinggi pohon yang sering kupanjat di depan rumah, bahkan mungkin lebih tinggi. Sebelumnya aku berpikir kalau gajah berwarna pink dan setinggi manusia biasa karena pada majalah anak-anak yang sering aku baca dia nampak menggemaskan. Aku juga baru tahu jika ada burung dengan ekor yang sangat besar dan tak bisa terbang, yaitu burung merak. Aku benar-benar ingat, saat itu aku menangis kencang dan di saat yang hampir bersamaan burung-burung itu tiba-tiba mengembangkan ekornya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut