Hubungan Rumit antara Ayam dan Pemiliknya
- U-Report
Bolo benar-benar dimanja, bukan hanya oleh manusia tetapi juga teman sesamanya. Di kandang, dia diberikan pendamping supaya merasa lebih nyaman dan terpenuhi kebutuhannya. Makanan selalu tercukupi, dan si pejantan selalu mendahulukan pujaan hatinya. Dia selalu memastikan bahwa Bolo got the best bites. Sekali-kali mereka keluar kandang, berjalan-jalan berdua bermesraan. Kalau sayap bisa saling berkait, mereka pasti sudah bergandengan.
Si pejantan tak bernama yang berjenis ayam kate ini tentu berukuran jauh lebih kecil dari pasangannya, dan memiliki gerakan yang jauh lebih gesit daripada Bolo yang semlohay (baca: overweight) tak terkira. Demi tak meninggalkan Bolo, pasangannya itu rela mengubah langkahnya menjadi langkah-langkah yang lebih kecil. Jika ada ayam jantan lain yang mengincar, dia busungkan dada sehingga seolah ukurannya jadi berlipat ganda, lalu tak ragu-ragu menyerang untuk mengusir ayam lain dari teritori asmara mereka.
Tapi minggu lalu berbeda. Abang saya kedatangan besan, yaitu mertua dari anak laki-laki keduanya, beserta keluarga. Rumah abang saya ini berdekatan dengan rumah ayah saya, tempat saya tinggal. Di ruang tamu ayah saya, kemenakan saya bercerita kepada kakeknya bahwa mertuanya datang. Ayah saya bertanya, “Mama masak apa? Ada makanan, tidak?” Tentu tamu selayaknya harus dijamu. Kemenakan saya mengiyakan. “Ada, Kek. Bolo dipotong,” jawabnya keras kepada ayah saya yang pendengarannya kurang baik.
Mendengar itu, saya yang sedang membuat teh untuk diri sendiri di dapur langsung terbengong. Tangan saya yang sedang turun naik mencelupkan kantung teh ke dalam cangkir terhenti di udara. Bolo bernasib sama dengan ayam-ayam pendahulunya? Tapi kan mereka tidak istimewa.
Ketika tamu-tamu sudah pulang, saya menanyakan kepada abang saya tentang apa yang saya dengar. Bukan kepada abang pemilik ayam, tetapi abang lain yang paling beredar dan gaul di daerah rumah. Sehingga hampir bisa dipastikan mengetahui dan punya jawaban atas segala peristiwa atau misteri di rumah. Abang saya menjelaskan bahwa Bolo sudah kesulitan bergerak beberapa hari belakangan, mungkin karena obesitasnya itu. Dia juga sudah tua. Mungkin usianya setahun, dua tahun atau lebih, saya sendiri tidak tahu tepatnya. Sepulang saya datang dari bertugas di negeri seberang setahun lalu, Bolo sudah ada.
