Hubungan Rumit antara Ayam dan Pemiliknya
- U-Report
“Sebelum dipotong, sudah minta izin Liza dulu,” kata abang saya. Liza adalah anak bungsu abang saya yang melakukan self proclaim bahwa Bolo adalah peliharaannya, meski dia tidak ikut andil merawat. Dia bilang akan menangis jika Bolo dipotong. Rupanya karena dia melihat bahwa masa depan Bolo sudah pasti tidak akan cerah karena kesehatan yang terus menurun, anak kelas 5 SD itu memasrahkan.
Lalu keesokan hari, kakak ipar menawarkan jika saya ingin menyantap ayam goreng. Saya tanyakan apakah itu Bolo, “Iya,” katanya. Saya menggeleng sambil tersenyum agak dipaksakan. Merasa agak lemas. Bukan berarti saya menyalahkan tindakan mengubah nasib Bolo dari hewan kesayangan menjadi hidangan keluarga.
Tetapi, terpikir oleh saya jika saya tinggal di suatu wilayah yang budayanya menghalalkan memakan kucing, besar kemungkinan jika kucing saya Garfield yang telah menemani saya mengarungi suka duka bertahun-tahun lalu sakit-sakitan, saya tidak akan pikir panjang untuk merendangnya, misalnya. Sebab apa bedanya kucing, anjing, ayam, sapi, kerbau, babi, dan makhluk-makhluk lain non manusia itu? Semuanya sama berdaging dan bisa dimakan. Hanya masalah kebiasaan. (Cerita ini dikirim oleh Sylvia Masri)
