Doa yang Selalu Menyertai Langkahku
VoxPop.co.id – Di pagi buta sebelum ayam berkokok, seorang ibu telah bangun dari tidurnya. Lantunan doanya ketika duduk bersimpuh di atas sajadah membuat hati terasa tenang, sejuk, dan damai. Ia tak pernah lelah mendoakan buah hatinya ketika susah maupun senang. Dalam pikirnya, ia berharap yang terbaik untuk sang anak yang ia sayangi dan cintai.
Setelah melaksanakan salat subuh ia selalu merapikan kamar dan membangunkan seisi rumah untuk memulai aktivitas di pagi hari. Lalu ia pun keluar rumah menyusuri jalan dan membeli sayuran guna menyiapkan sarapan untuk orang-orang yang ia sayangi. Sesampainya di rumah, ia pun mulai bergegas memasak sayurannya.
Menyantap hidangan yang masih hangat buatan ibu adalah sebuah kebahagiaan sebelum mengawali hari. Walaupun hanya dengan nasi putih dan tumis kacang panjang yang dihidangkan olehnya, tapi itu telah cukup untuk mengisi energi yang menjadi penyemangat kami dalam memulai aktivitas.
Sebelum anak-anaknya berangkat, ia selalu mencium keningnya dan tak lupa si anak pun membalas dengan mencium tangannya. Sayup-sayup terdengar ucapan doa keluar dari mulutnya yang dikhususkan untuk buah hatinya. “Hati-hati di jalan, Nak. Setiap langkahmu pasti terselip doa-doa ibu,” tuturnya lembut.
Sosok ibu yang bernama Wiwit Meylina ialah sosok yang sangat luar biasa. Bila ada pepatah mengatakan, “surga di telapak kaki ibu” mungkin itu adalah sebuah gambaran yang paling mulia bagi setiap pengorbanan yang telah ia lakukan terhadap buah hatinya. Ia juga pantang menyerah dalam menjalani kehidupannya.
Tak hanya sebagai sosok yang lembut, ibu adalah seorang pendamping yang kuat bagi ayah untuk selalu menyemangati di kala pekerjaan kantor atau usaha yang sedang pasang surut. Selama perjuangan hidupnya, ibu rela bekerja dari pagi buta hingga larut malam. Walaupun pekerjaan sehari- harinya adalah seorang ibu rumah tangga.
Terkadang sang buah hati sering membuat ibu bersedih dengan perbuatan yang dilakukannya. Dan juga sering berkata tidak sopan sehingga menyakiti hatinya. Namun, setiap lontaran kata yang menyakitkan hatinya tak pernah diingatnya sebagai dendam. Akan tetapi ia selalu menyelipkan sebuah ucapan doa yang terbaik untuk anaknya.
