Doa yang Selalu Menyertai Langkahku
Pengetahuan teknologi yang semakin tinggi terkadang membuat sang anak menjadi sombong. Seperti kacang lupa pada kulitnya. Contohnya, ketika ibu bertanya kepada sang anak, “Nak, bagaimana cara membalas sms di handphone berlayar sentuh ini?” Tapi malah malu dan emosi yang terlintas di benak sang buah hatinya.
Padahal dulu ia begitu tulus dan sabar dalam mengajarkan kita saat pertama kali berbicara, membaca, dan menulis. Bahkan kita dulu selalu bertanya kepadanya jika tak mengerti sesuatu. Ini merupakan bentuk rasa sayang tiada akhirnya kepada seorang anak. Sang anak pun menyadari bahwa sosok ibu adalah yang paling mulia di dunia ini.
Dia adalah malaikat yang sesungguhnya. Seorang perempuan yang bertaruh nyawa ketika melahirkan sang anak yang ia nantikan selama sembilan bulan. Pengorbanan dan perjuangannya untuk anak tak akan pernah bisa terbayar oleh apapun. Ia pun yang menunjukkan bagaimana cara mencintai dengan penuh cinta kasih dan sayang kepada anak-anaknya.
Seorang ibu yang berusia 42 tahun tersebut hanya berpesan kepada sang anak dengan pintanya yang tak banyak. Hanya menginginkan anak- anaknya hidup rukun dalam bersaudara. Dan ingin sang buah hatinya menjadi orang-orang yang pintar, sukses, dan berguna di masa yang akan datang nanti.
Wahai ibu, terima kasih untuk setiap doa yang selalu kau panjatkan untuk anak-anakmu. Maafkan segala kesalahan yang pernah membuat ibu merasa sedih. (Tulisan ini dikirim oleh Amanda Putri Muswiani, mahasiswa Universitas Pancasila, Jakarta)
