Belajar Arti Kebinekaan dari Suku Tengger
Nyadran sendiri adalah sebuah ritual untuk mengingat para leluhur yang telah meninggal mendahului mereka. Dengan ritual Nyadran ini, para warga suku Tengger Sapikerep melakukan ritual Pangeleng atau pengingat untuk leluhur. Bunga yang telah disiapkan dan juga toples berisi air bercampur dengan bunga tujuh rupa dibawa bersama ke makam. “Ini sudah tradisi turun-temurun. Saat saya masih kecil, ritual ini sudah ada,” terang Suwandi, Kepala Desa Sapikerep.
Nah, saat prosesi Nyadran inilah kerukunan umat beragama terlihat. Pasalnya, bukan hanya warga desa yang beragama Hindu saja yang mengikutinya. Melainkan warga yang beragama Islam pun juga mengikuti. Namun, bukan dalam ritual. Mereka mengikuti acara ini dengan keyakinannya masing masing, tanpa mengikuti ritual yang ada.
“Saya beragama Islam. Saya sebagai kepala desa juga mengikuti upacara ini, begitu pula yang lain. Tetapi tidak berbarengan. Untuk yang agamanya berbeda, kami suruh berangkat terlebih dahulu ke makam biar tidak berdesakan dengan yang menggelar ritual,” jelasnya.
Para umat Hindu yang menggelar ritual, beriringan berjalan bersama untuk terlebih dahulu menuju ke Punden. Setelah dari Punden kemudian mereka melanjutkan ke makam sanak famili mereka dengan membawa bunga dan juga sesajen. Dalam perjalanan menuju ke Punden dan juga makam, para umat Hindu ini diiringi dengan musik ktiplungan serta musik khas Bali yakni Bale Ganjur. Tujuannya, untuk menyenangkan roh para leluhur yang telah diundang dan akan diantar ke tempat bersemayamnya.
Makampun selesai dikunjungi. Namun, bukan membuat warga kemudian pulang ke rumah. Melainkan, masih ada ritual lain yakni prosesi membuat senang leluhur masih diteruskan dengan cara menanggap jaran kepang atau kuda lumping. “Sebelum diantar pulang, kami wajib untuk menyenangkan terlebih dahulu. Dan juga tanggapan ini sebagai hiburan bagi masyarakat,” ujarnya.
Ada yang unik dari perayaan Hari Raya Karo yang ada di desa ini. Meskipun kepala desa adalah seorang Muslim, namun untuk menjaga kerukunan umat beragama dan melestarikan budaya yang ada di desa, beliau selama sepuluh hari ikut tidak boleh tidur di rumahnya. Tujuannya untuk menjaga sesajen yang ada di Balai Desa yang digunakan untuk mengundang leluhur desa agar tidak terjadi apa-apa.
