Belajar Arti Kebinekaan dari Suku Tengger
“Ini sudah tradisi. Siapapun kepala desa yang jadi, harus menjalankan tradisi ini. Bukan untuk mengikuti agamanya, tapi untuk menjaga kerukunan umat beragama dengan cara bertoleransi,” jelas Suwandi.
Ia berada selama sepuluh hari di Balai Desa bersama dengan anak dan istrinya. Ia ditugaskan untuk mengganti beberapa sesajen yang sifatnya tidak tahan lama, seperti wedang kopi yang dalam satu minggu harus diganti dengan yang baru. Sedangkan yang lainnya tidak perlu diganti.
Bukan itu saja, sebagai kepala desa yang mengayomi masyarakatnya, meskipun berbeda agama, Suwandi juga mendapatkan tugas untuk mengunjungi rumah warga yang merayakan Karo. Dari sekitar 800 kepala keluarga yang ada di desanya, Suwandi harus mengunjungi sedikitnya 500 kepala keluarga.
“Yang merayakan Karo sekitar 500 kepala keluarga. Itu harus saya kunjungi semua dalam waktu tiga hari. Jadi, satu harinya berkisar 165 kepala keluarga yang harus saya kunjungi,” tutup kepala desa yang menjabat sejak tahun 1999 itu. (Tulisan ini dikirim oleh Rosyidi)
