Ramadhan bersama Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Mukti Ali Qusyairi, Pengasuh Majelis Pengajian Hadharatu 'Ulum
Sumber :
  • Dok. Pribadi

Kedua, cinta Allah. Saya mengutip perkataan Sayekh Abu Yazid al-Basthami, "aku telah salah menduga. Aku menduga aku mencintai Alllah, agar Allah mencintaiku. Sebelum aku menyampaikan cintaku kepada Allah, ternyata jauh-jauh sebelumnya terlebih dahulu Allah sudah mencintaiku". Cinta Allah Mahauniversal, tanpa pilih kasih,  tanpa pandang bulu, tanpa pamrih. Allah  mencintai seluruh makhluknya manusia, binatang, bumi, langit, dan yang lainnya. Cinta Allah kepada makhluknya tak bisa  dibandingkan dengan cinta 
Makhluk kepadaNya dan kepada sesama. 

img_title Bolehkah Puasa Syawal tapi Masih Punya Utang Puasa Ramadhan, Begini Kata Buya Yahya

Allah Mahacinta dan mengajak seluruh umat manusia untuk saling mencintai. Umat muslim harus menebar cinta kepada semua manusia, binatang, lingkungan dan alam ini. Puasa adalah ibadah yang menempa dan menggembleng manusia untuk menajamkan sensitivitas dan kepekaan sosial serta menguatkan rasa cinta kepada sesama.

Ketiga, balasan Allah. Janji Allah pasti ditepati. Diantara janjinya adalah balasan terindah bagi orang-orang yang  beribadah,  orang-orang shaleh, orang-orang yang baik. Balasan bagi orang-orang yang melaksanakan puasa karena Allah adalah sorga.

img_title Dukung Perjalanan Finansial Pekerja Migran Indonesia, Bisnis Remitansi BRI Tumbuh 27,7% YoY Jelang Lebaran 2026

Keempat, kasihsayang Allah. Ini menguatkan cinta. Allah selain Mahacita juga Mahakasihsayang.

Kelima, cahaya Allah. Dalam satu ayat Al-Quran dikatakan, "Allah adalah cahaya langit dan bumi...
Allah adalah cahaya di atas cahaya" (Qs. An-Nur: 35).  Kita berasumsi bahwa kegelapan adalah penghalang mata kita. Mata kita tidak bisa melihat dalam gelap gulita. Meski ada sesuatu karena gelap, mata tak bisa melihat. Padahal cahaya yang terang benerang pun  adalah penghalang mata  kita. Ketika mata kita tersorot lampu yang sangat terang, maka kita pun tak bisa sanggup melihat apa yang ada di cahaya itu. Bahkan mata kita tidak sanggup melihat langsung cahaya yang sangat terang. Kita bisa mencoba mata kita berhadapan langsung dengan cahaya yang sangat terang,  niscaya mata kita tidak akan sanggup memandanginya. Mata kita langsung terpejam! Mata kita masih bisa melek di dalam kegelapan. Tetapi mata kita tidak sanggup melek dalam cahaya yang menyilaukan. 

img_title Banyak yang Keliru Memaknai Lebaran, Quraish Shihab Ingatkan Bahaya Dendam yang Diam-diam Menghancurkan

Allah Maha Cahaya adalah eksistensi yang ada, wujud.  Tetapi  mata kita tak sanggup melihatNya. Cahaya Allah yang bisa dirasakan dan bisa diraih umat manusia adalah berupa ilmu pengetahuan, petunjuk (hidayah), iman, Islam, ihsan. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VoxPop.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut