Ramadhan bersama Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
- Dok. Pribadi
Kedua, cinta Allah. Saya mengutip perkataan Sayekh Abu Yazid al-Basthami, "aku telah salah menduga. Aku menduga aku mencintai Alllah, agar Allah mencintaiku. Sebelum aku menyampaikan cintaku kepada Allah, ternyata jauh-jauh sebelumnya terlebih dahulu Allah sudah mencintaiku". Cinta Allah Mahauniversal, tanpa pilih kasih, tanpa pandang bulu, tanpa pamrih. Allah mencintai seluruh makhluknya manusia, binatang, bumi, langit, dan yang lainnya. Cinta Allah kepada makhluknya tak bisa dibandingkan dengan cinta
Makhluk kepadaNya dan kepada sesama.
Allah Mahacinta dan mengajak seluruh umat manusia untuk saling mencintai. Umat muslim harus menebar cinta kepada semua manusia, binatang, lingkungan dan alam ini. Puasa adalah ibadah yang menempa dan menggembleng manusia untuk menajamkan sensitivitas dan kepekaan sosial serta menguatkan rasa cinta kepada sesama.
Ketiga, balasan Allah. Janji Allah pasti ditepati. Diantara janjinya adalah balasan terindah bagi orang-orang yang beribadah, orang-orang shaleh, orang-orang yang baik. Balasan bagi orang-orang yang melaksanakan puasa karena Allah adalah sorga.
Keempat, kasihsayang Allah. Ini menguatkan cinta. Allah selain Mahacita juga Mahakasihsayang.
Kelima, cahaya Allah. Dalam satu ayat Al-Quran dikatakan, "Allah adalah cahaya langit dan bumi...
Allah adalah cahaya di atas cahaya" (Qs. An-Nur: 35). Kita berasumsi bahwa kegelapan adalah penghalang mata kita. Mata kita tidak bisa melihat dalam gelap gulita. Meski ada sesuatu karena gelap, mata tak bisa melihat. Padahal cahaya yang terang benerang pun adalah penghalang mata kita. Ketika mata kita tersorot lampu yang sangat terang, maka kita pun tak bisa sanggup melihat apa yang ada di cahaya itu. Bahkan mata kita tidak sanggup melihat langsung cahaya yang sangat terang. Kita bisa mencoba mata kita berhadapan langsung dengan cahaya yang sangat terang, niscaya mata kita tidak akan sanggup memandanginya. Mata kita langsung terpejam! Mata kita masih bisa melek di dalam kegelapan. Tetapi mata kita tidak sanggup melek dalam cahaya yang menyilaukan.
Allah Maha Cahaya adalah eksistensi yang ada, wujud. Tetapi mata kita tak sanggup melihatNya. Cahaya Allah yang bisa dirasakan dan bisa diraih umat manusia adalah berupa ilmu pengetahuan, petunjuk (hidayah), iman, Islam, ihsan.
