Melihat Kebudayaan Indonesia pada Film Raya and the Last Dragon
- vstory
2. Simbol Buto Ijo
Terdapat adegan Ayah Raya yang muncul dengan sebuah topeng berwarna hijau dan berwajah seram serta memiliki taring yang panjang. Topeng yang mirip dengan simbol Buto Ijo tersebut digunakan saat Benja, Ayah Raya saat sedang bertarung.
3. Pencak Silat
Raya sebagai seorang pendekar wanita tentu saja sangat handal dalam bela diri. Ternyata, bela diri yang ditekuni oleh Raya sedari kecil mirip dengan jurus gerakan bela diri tradisional Indonesia yaitu Pencak Silat.
4. Rumah Gadang
Kumandra yang terpecah menjadi lima suku, Fang adalah salah satu suku yang memiliki bangunan tradisional yang terinspirasi dari Rumah Gadang khas Padang, Sumatera Barat.
5. Gamelan
Film Disney memang khas dengan film animasi yang membuat para penontonnya dapat terbawa suasana film, maka tentu saja diperlukan musik latar atau back sound. Di film Raya and the Last Dragon penonton dimanjakan dengan suara-suara gamelan, musik tradisional khas Indonesia.
6. Batik
Selain itu, penonton dapat menemukan adegan beberapa warga yang sedang membatik. Walau hanya muncul dalam hitungan detik, namun adegan tersebut sangat jelas memperlihatkan seseorang yang tengah membuat pola diatas kain menggunakan canting.
Pandangan Pegiat Seni Budaya Indonesia pada Film Raya and the Last Dragon
Menurut Lita, Putri Tari DKI Jakarta 3 2020 dan salah satu bagian dari komunitas Belantara Budaya Indonesia, mengungkapkan film Raya and the Last Dragon sangat menakjubkan serta kreatif karena dapat dikemas dalam film animasi Disney sehingga dapat ditonton semua kalangan usia.
“Ini adalah salah satu cara untuk memperkenalkan seni dan budaya Indonesia yang begitu kaya, indah dan beragam kepada seluruh dunia,” ujar Lita.
Ia mengungkapkan cara Disney memproduksi film animasi seperti ini juga bisa menjadi salah satu cara memperkenalkan budaya kepada generasi anak bangsa selanjutnya. Meski film besutan Disney berasal dari negara lain, namun jika generasi muda menonton film ini Lita mengungkapkan mereka pasti mendapat kebanggaan tersendiri hingga timbul rasa ingin terus mencintai budaya Indonesia.
“Seni dan budaya Indonesia harus dipelajari, dikembangkan, dicintai dan dilestarikan. Dari situ kita akan belajar, karena kalau bukan kita siapa lagi?,” papar Lita.
