Peluang dan Tantangan Pemuda Digital
- vstory
VoxPop – Hampir seluruh masyarakat pernah mendengar kalimat berikut “Beri aku seribu orang tua niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda niscaya akan kuguncang dunia.”
Sebuah kalimat yang dipekikkan oleh proklamator bangsa mampu menggugah semangat, menggetarkan jiwa patriotisme para pemuda untuk bangkit, bersatu membela tanah air.
Sepanjang sejarah bangsa, gerakan pemuda selalu menjadi pelopor setiap aksi perjuangan. Oleh karenanya elemen pemuda juga merupakan sumber kekuatan dalam menggerakkan roda pembangunan.
Pemuda menurut Undang-Undang No.40/2009 adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun.
Mengacu definisi tersebut maka golongan pemuda merupakan gabungan antara sebagian generasi Z dan sebagian generasi milenial. Hasil Sensus Penduduk 2020 yang dirilis BPS mengklasifikasikan penduduk Indonesia menurut generasi, kelompok umur dan jenis kelamin.
Sumber pengklasifikasian menurut generasi merujuk teori William H Frey seorang ahli demografi yang membagi komposisi penduduk ke dalam enam generasi. Dua di antaranya adalah generasi yang mendominasi penduduk Indonesia saat ini yakni generasi Z sebesar 27,94?ri 270,20 juta jiwa penduduk Indonesia atau sebesar 74,93 juta jiwa dan generasi Y (dikenal dengan generasi milenial) sebesar 25,87% atau 69,38 juta jiwa.
Berdasar hasil Sensus Penduduk 2020, generasi Z lahir pada rentang waktu 1997-2012, artinya usia mereka saat sensus berlangsung adalah 8-23 tahun. Generasi ini lahir dan dibesarkan di tengah melesatnya perkembangan teknologi digital.
Sejak usia dini mereka telah beradaptasi dengan dunia digital, fasih dalam mengakses internet serta terampil dalam mengoperasikan perangkat digital.
Sementara generasi Milenial lahir dalam rentang waktu 1981-1996, dengan perkiraan usia saat sensus berlangsung adalah 24-39 tahun. Sebagai generasi yang berada pada masa peralihan, kaum milenial mengalami fase pendidikan konvensional pada usia dini kemudian harus beradaptasi dengan teknologi digital ditengah perjalanan hidupnya karena tuntutan dunia pendidikan maupun dunia kerja.
Membangun generasi muda yang berkualitas dan berkepribadian tangguh bukan perkara mudah. Tantangan era digital kian nyata dan semakin kompleks. Dunia digital yang sudah merasuk ke setiap aspek kehidupan manusia tanpa disadari turut membentuk karakter pemuda bangsa.
