Mewaspadai Fenomena Naive Subject saat Perayaan Tahun Baru

Ilustrasi Perayaan Tahun Baru. Sumber: pexels.com
Sumber :
  • vstory

Gula, garam, dan lemak (GGL) merupakan tiga kandungan makanan yang sangat mudah kita jumpai, baik makanan yang diolah sendiri maupun makanan siap saji. Pemberian ketiga kandungan tersebut memang akan melambungkan rasa sebuah masakan dan membuat kita tak bisa berhenti mengunyah.

img_title Impor Garam Naik di Awal Tahun 2026, Pemerintah Didorong Batasi Kuota Tambahan

Tak terasa tahun baru segera tiba. Perayaan tahun baru yang meriah akan kita selenggarakan. Makanan dan camilan pun pasti selalu ada di setiap meja perayaan. Camilan seperti keripik, snack, minuman bersoda, makanan siap saji, junk food, makanan bersantan yang gurih, tentu semuanya tak luput dari semarak perayaan tahun baru. Sayangnya, kemeriahan tahun baru dibayangi bahaya tersembunyi yang membuat kita harus tetap waspada, yaitu naive subject.

Naive subject merupakan sebuah kondisi di mana terjadi lonjakan konsumsi rata-rata kalori harian secara tiba-tiba.

img_title Di Balik Lezatnya Nasi Goreng, Waspadai Bahan yang Dianggap Jadi Pemicu Penyakit

Manusia pada umumnya hanya memerlukan konsumsi kalori harian 2.000 hingga 2.200 kkal. Namun ketika naive subject terjadi, kalori harian bisa mencapai lebih dari 2.200 kkal. Asupan kalori berlebihan ini didominasi oleh kandungan gula, garam, dan lemak (GGL).

Fenomena naive subject saat tahun baru atau saat perayaan-perayaan sejenis patut menjadi perhatian. Karena fenomena ini justru akan menimbulkan bahaya bagi kesehatan, seperti pemicu penyakit diabetes, stroke, ginjal, jantung, hipertensi, dan penyakit kardiovaskuler lainnya. Penyakit-penyakit ini menjadi pembunuh nomor satu bukan hanya di Indonesia melainkan di dunia. Dari tahun ke tahun prevalensi penyakit tersebut tak hanya menyasar usia tua, melainkan juga usia muda.

img_title Harga Minyak Goreng, Gula, Beras hingga Telur Ayam Kembali Melonjak, Cek Daftar Lengkapnya

Naive subject pada saat momen-momen perayaan seperti tahun baru harus diwaspadai. Disiplin asupan kalori tetap menjadi prioritas. Kita harus tetap menjaga asupan gizi seimbang. Jangan sampai tergoda mengkonsumsi makanan-makanan tinggi GGL secara berlebihan karena mencegah lebih baik daripada mengobati. (Dita Christina, PNS di Badan Pusat Statistik)

Ditjen Perkebunan Kementan meningkatkan ekstensifikasi dan intensifikasi tebu

Pemerintah Wajibkan Industri Gula Punya Kebun Tebu Sendiri, Asosiasi Petani Buka Suara

Ketua Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Soemitro Samadikoen menilai, aturan tersebut sulit direalisasikan dalam waktu dekat.

img_title
VoxPop.co.id
3 Agustus 2026
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VoxPop.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut