Waspada pada Stagflasi
- vstory
Pertama, mewaspadai tekanan inflasi dan dampaknya terhadap ekspektasi inflasi, terutama pada inflasi inti. Kedua, kebijakan makro yang tetap akomodatif dalam mendorong pembiayaan bagi perekonomian dan untuk mengatasi scarring effect ekonomi. Ketiga, kebijakan stabilisasi nilai tukar diarahkan untuk mencapai stabilitas rupiah yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan inflasi. Keempat, penguatan sistem pembayaran secara digital. Kelima, meningkatkan koordinasi untuk membangun kebijakan moneter dan fiskal yang cepat dan tepat.
Saat ini inflasi inti Indonesia berada di level yang relatif stabil. Berdasarkan data BPS, secara tahunan, inflasi inti Juni 2022 mencapai 2,63 persen atau meningkat dibandingkan periode Mei 2022 yang tercatat sebesar 2,58 persen. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di level 5,01 persen pada Triwulan I 2022 yang artinya pertumbuhan ekonomi masih lumayan tinggi. Tetapi tentu saja kita perlu lebih waspada bila melihat komponen pertumbuhan yang relatif mengumpul dan pertumbuhannya masih sangat tinggi pada sektor tertentu.
Menjaga Konsumsi Rumah Tangga dan Pemerintah
Porsi terbesar perekonomian Indonesia adalah dari konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah. Dengan demikian Indonesia harus menjaga konsumsi keduanya agar tetap tumbuh cepat. APBN harus hadir dengan memberi bantalan yang lebih tebal dan mampu melindungi masyarakat.
Salah satu langkah yang bisa diambil adalah tetap menjaga anggaran perlindungan sosial. Realisasinya bisa diberikan dalam bentuk bantuan sosial dengan sasaran KPM dan BPUM yang ter-update sesuai kondisi sehingga dapat tepat sasaran. Anggaran subsidi energi dan kompensasi juga perlu ditambahkan dan direalokasi dengan tepat. Dengan demikian dapat terhindar dari parahnya dampak stagflasi. Suparna (Statistisi Madya pada BPS Provinsi DIY)
