Transformasi Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri
- vstory
VoxPop - Pendidikan tinggi memiliki peran penting dalam meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas, terampil dan adaptif. Hal tersebut dituturkan langsung oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim yang menjelaskan terkait kesempatan emas perguruan tinggi dalam mendukung program merdeka belajar yang memiliki banyak manfaat bagi perguruan tinggi khususnya dalam menciptakan lulusan yang memiliki kapasitas dan kapabilitas yang mampu bersaing pada kelas internasional.
Banyak program yang telah dikembangkan pemerintah melalui Kemendikbudristek yang bekerjasama dengan Kementerian dan Lembaga lain untuk turut ikut serta menggagas arah gerak pendidikan perguruan tinggi Indonesia. Namun sayangnya perguruan tinggi khususnya Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tidak banyak memberikan kesempatan yang luas bagi calon mahasiswa untuk dapat menempuh pendidikan tinggi sesuai dengan minat dan bakat yang diinginkan. Hingga berimplikasi pada lulusan perguruan tinggi yang dihasilkan.
Berkaca pada polemik tersebut, Kemendikbudristek menghadirkan program Transformasi Seleksi Baru Masuk Perguruan Tinggi dengan membuka banyak kesempatan seluas-luasnya pada bakal calon mahasiswa perguruan tinggi negeri. Transformasi tersebut digadang memberikan perbaikan mekanisme seleksi sebelumnya, yaitu seleksi masuk perguruan tinggi negeri yang lebih adil sehingga mampu mendorong perbaikan iklim pembelajaran di pendidikan menengah, dan menghasilkan calon mahasiswa yang semakin berkompeten, memiliki kapasitas dan kapabilitas dalam tiap lini bidangnya masing-masing.
Terdapat sejumlah prinsip perubahan yang ada dalam mekanisme baru seleksi masuk perguruan tinggi negeri yaitu mendorong pembelajaran yang menyeluruh, lebih berfokus pada kemampuan penalaran, lebih inklusif dan mengakomodasi keragaman peserta didik, serta lebih terintegrasi dengan mencakup program sarjana, diploma tiga, dan diploma empat atau sarjana terapan. Hal tersebut merupakan hasil evaluasi dari seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri yang menggunakan sistem pretasi dan cenderung memisahkan calon mahasiswa berdasarkan jurusan pada pendidikan menengah, sehingga pilihan program studi menjadi terbatas yang berpeluang membatasi calon mahasiswa untuk mengeksplorasi minat dan aspirasi kariernya.
Namun di sisi lain, stigma penting dan tidak penting pada mata pelajaran yang tidak dijadikan indikator dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri, akhirnya munculnya fokus pembelajaran yang tidak menyeluruh pada setiap mata pelajaran dalam tiap sekolah di Indonesia, akibat mengikuti standaritas dalam pemenuhan kompetensi yang hanya digunakan dan bermanfaat ketika mengikuti seleksi perguruan tinggi negeri. Hadirnya program tersebut diharapkan lunturnya stigma tentang penting tidak pentingnya mata pelajaran untuk diajarkan kepada peserta didik yang justru menghambat proses perkembangan peserta didik aik dari segi kognitif, afektif maupun psikomotorik.
