Pesta Demokrasi Selesai, Persaudaraan Jangan Ikut Usai
- vstory
VoxPop – Pesta pemilihan umum Peresiden Republik Indonesia tahun 2024 baru saja selesai digelar. Ditandai dengan pengumuman hasil Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan menetapkan paslon nomor urut 02 sebagai pemenang kontestasi politik. Perolehan suara nomor urut 02 berjarak cukup jauh dari suara perolehan pesaingnya. Data ini berdasarkan pengumuman KPU hari Rabu, 20 Maret lalu. 58,59% perolehan suara sah paslon nomor urut 02, 24,95% nomor urut 01, dan 14,47% perolehan suara nomor urut 03.
Hasil keputusan KPU di atas pastinya tidak hanya dirasakan oleh aktor politik atau pasangan calon saja, juga terhadap jajaran di bawahnya hingga para relawan tim sukses masing-masing parpol. Keputusan tersebut telah resmi dan sah menurut regulasi yang berlaku. Meskipun ada beberapa kontra dari pesaing pemenang pemilu presiden RI tahun 2024.
Hal wajar bila ada beberapa tuntutan dari golongan kalah sebab dalam kondisi seperti itu harapan kadang tidak sesuai dengan hasil akhir. Tetapi kendati tidak sesuai harapan, sebagai bangsa yang besar jiwa berbesar hati pun mesti selalu tertanam dalam diri setiap warga negara termasuk aktor politik yang ikut kontestasi.
Demi menjaga kesatuan dan persatuan, kewibawaan warga negara perlu dijaga agar keseimbangan dan keharmonisan bernegara bisa terus dirasakan. Untuk mewujudkan hal itu setiap kalangan harus berkontribusi. Terutama media massa sebagai perpanjangan tangan atas informasi yang beredar. Informasi yang sesuai fakta dan akurat harus tetap terkontrol. Jangan sampai media massa menjadi sumber perpecahan karena mengedarkan informasi salah atau memihak satu golongan. Netralitas adalah fondasi awal kegiatan jurnalisme.
Lebih-lebih peredaran informasi sekarang sangat cepat. Setiap akun sosial berpotensi menyebarkan informasi hoax, agaknya menurut pendapat pribadi setiap pengguna media sosial tidak gegabah menerima dan menyalurkan ulang informasi di akun media sosialnya.
Tantangan yang muncul berikutnya adalah terkait fenomena echo chamber: bahwa pengguna media sosial hanya terpapar informasi yang sesuai dengan pandangan pribadi mereka. Kesulitan membuka ruang opini yang berbeda dan berlawanan arah meningkatkan terjadinya konflik. Tentunya ini akan merusak perdamaian yang ada. Untuk itu kontribusi pemangku kebijakan sangat dibutuhkan agar memperketat pengawasan terhadap pengguna media sosial supaya integritas informasi tetap terjaga.
