Rantai Pasok Hijau: Antara Beban dan Investasi
- vstory
Di sisi lain, pergeseran pola konsumsi global juga semakin menekan industri untuk beradaptasi dengan rantai pasok yang lebih hijau. Studi dari McKinsey tahun 2023 menunjukkan bahwa 74% konsumen global bersedia membayar lebih mahal untuk produk yang memiliki rantai pasok berkelanjutan. Selain itu, investor juga mulai mengalihkan dananya ke perusahaan yang menerapkan prinsip environmental, social, and governance (ESG), dengan lebih dari 40 miliar dolar AS dana investasi berpindah ke perusahaan yang memiliki sertifikasi keberlanjutan dalam tiga tahun terakhir.
Penerapan SCM hijau memang memerlukan investasi awal yang lebih besar. Studi yang diterbitkan oleh IOP Conference Series tahun 2025 menunjukkan bahwa biaya awal implementasi rantai pasok hijau bisa mencapai 20 hingga 30 persen lebih tinggi dibandingkan rantai pasok konvensional. Namun, dalam jangka panjang, penghematan yang bisa didapat dari efisiensi energi dan pengurangan limbah operasional bisa mencapai 15 hingga 25 persen per tahun.
Studi kasus dari di Jawa Barat menunjukkan bahwa perusahaan yang beralih ke logistik hijau mampu menghemat Rp2,1 miliar per tahun dalam biaya bahan bakar dan operasional gudang. Hal ini karena SCM berkelanjutan memungkinkan pengelolaan sumber daya yang lebih efisien, mengurangi ketergantungan pada energi fosil, serta mempercepat proses distribusi dengan memanfaatkan teknologi digital.
Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi untuk menerapkan SCM berkelanjutan di Indonesia. Salah satunya adalah regulasi yang masih belum mendukung penuh transisi ini. Berbeda dengan Uni Eropa atau Singapura yang telah memberikan insentif pajak bagi perusahaan yang menerapkan SCM hijau, Indonesia masih tertinggal dalam memberikan dukungan finansial kepada industri yang ingin beralih ke rantai pasok yang lebih ramah lingkungan.
Data dari Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) menunjukkan bahwa 63% perusahaan masih belum mendapatkan insentif pajak yang jelas dalam menerapkan rantai pasok berkelanjutan. Selain itu, keterbatasan infrastruktur menjadi kendala utama. Gudang berbasis energi hijau di Indonesia hanya mencakup 5 persen dari total kapasitas penyimpanan nasional, membuat rantai pasok produk segar masih sangat bergantung pada sistem berbasis energi fosil.
