- VoxPop.co.id/Muhamad Solihin
Jadi Anda mau bersabar?
Saya sudah paham kondisi di Indonesia. Enggak mungkin dari lab langsung loncat ke pasar. Sepertinya enggak mungkin bisa tembus. Jadi riset jalan terus di dalam negeri, tapi kita juga akan coba pasar ke luar negeri dulu. Saya akan tetap menunggu tapi tidak pindah kewarganegaraan.
Kerja sama dengan Singapura sudah sampai mana?
Tetap jalan. Baru selesai MoU. Designed by Indonesia, manufactured by Singapura. Kemungkinan sampai akhir tahun ini.
Kalau temuannya diambil Singapura?
Nah, itu akan berbahaya jika kita berhenti (meneliti dan mengembangkan). Karena mereka akan mengembangkan dengan cepat. Sayangnya, di dalam negeri, tidak ada jaminan sama sekali.
Ada tawaran untuk tinggal di luar negeri?
Jepang, Singapura, Amerika nawarin. Saya enggak lah. Kalau joint company mungkin. Kita sudah membangun brand, ingin agar produk dan registernya atas nama bangsa Indonesia, brand nasional.
Anda ke luar negeri beberapa waktu lalu, apakah untuk cari pendanaan?
Hanya kerja sama. Mereka pakai teknologi, kami kasih training. Saya kira itu win win solution dan akan berlanjut terus. Kami lagi fokus di Jepang dan Polandia. Sedang dalam pembicaraan dengan Kanada, Amerika, Australia, dan Timur Tengah.
Soal join riset dengan kementerian, kabarnya Anda menolak uji klinis?
Itu dengan Litbang Kementerian Kesehatan, MoU (Memorandum of Understanding) 2012. Uji praklinis, validitas, studi kasus, semua sudah. MoU sudah, tapi perjanjian kerja samanya belum sampai sekarang dengan litbang kesehatan.
Banyak yang mendukung Anda?
Publik sangat mendukung. Itu cukup memberikan motivasi.
Tapi sepertinya dipersulit pemerintah?
Sepertinya ini ada missed. Penelitian kesehatan itu, Perpres Tahun 1995 Nomor 93. Saya rasa itu mengacu ke situ semua, seperti izin terhadap subjek, dasar evaluasi. Kemudian, Kemenkes menggunakan Good Clinical Practice (GCP) memakai standar WHO. Itu baru dan belum diundangkan di Indonesia. Saya kira perspektif itu yang beda.
Nasib pasien sekarang bagaimana?
Total masih aktif ada 6.000an, tapi yang record-nya aktif terpantau ada 3.000an. Mereka sempat syok, tapi Kemenkes berjanji akan memfasilitasi di delapan rumah sakit yang ditunjuk.
