Siswa di Serang Bikin Pengawet Tahu Pengganti Formalin
- VoxPop.co.id/Mitra Angelia
VoxPop.co.id – Zat formalin yang biasa digunakan untuk pengawet mayat, ternyata masih sering digunakan oleh produsen tahu untuk mengawetkan dan membuat kenyal tahu. Menyadari bahaya penggunaan zat tersebut, para siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Bina Putera, Kopo, Serang, Banten melakukan gebrakan dengan menciptakan bahan pengawet alami, sebagai pengganti formalin.
Akhmad Supriyatna, Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan dan Pengembangan SDM (LPPSDM) Bina Putera Utama, yang membina SMA Bina Putera mengatakan, pengawet alami yang ditemukan oleh para siswa ini dinamakan dengan Pengawet Alami Tahu (Palata). Setelah melakukan pengujian selama setahun, Palata itu dilabeli merek dengan nama BioPresv.
Yatna, ternyata bukan hanya seorang Ketua Pembina SMA Bina Putera saja, pria asal Serang tersebut juga lulusan Institut Pertanian Bogor jurusan Teknologi Pangan. Dalam temuan pengawet alami tahu itu, ia berkontribusi sebagai penggagas penelitian BioPresv.
Dia menjelaskan, BioPresv terbuat melalui proses fermentasi dengan bahan dasar buah pisang sebagai media untuk sumber nutrisi bakteri murni. Dia menjelaskan bakteri murni tersebut berfungsi untuk menekan bakteri pembusuk masuk ke dalam bahan tahu. Yatna mengatakan, bakteri yang ada di dalam BioPresv merupakan tiga jenis bakteri Lactobacillus.
"Bakteri murni ini bantuan dari Lab MBrio Bogor, mereka juga yang membantu SMA Bina Putera hingga pisang bagus didapat," ujar Yatna.
Soal proses pembuatannya, pisang dilumatkan seperti bubur, lalu di simpan dalam drum muatan 200 liter. Selanjutnya difermentasi dengan memasukkan tiga jenis Lactobacillus, setelah itu bubur pisang dibiarkan kedap udara selama lima sampai tujuh hari.
"Satu drum (200 liter) itu, 20 sampai 25 kilogram pisang matang," katanya.
Pisang yang digunakan pun harus pisang manis yang matang, sebab media tersebutlah yang menjadi sumber nutrisi bagi Lactobacillus. Jika ada campuran kurang matang, kata Yatna, maka ada penambahan fruktosa, jenis gula sederhana.
"Intinya makanan untuk bakterinya tidak boleh kurang," jelasnya.
Kemudian, setelah difermentasi lima hingga tujuh hari, barulah dilakukan penyaringan. Ampas dipisahkan dan airnya lalu dikemas. "Kita lagi coba ampasnya untuk pupuk tanaman ya," tutur Yatna.
