Istiqlal Bisa Jadi Kiblat Peradaban Umat Islam Dunia
- VoxPop.co.id/Muhamad Solihin
Apa jawaban Menag?
Menag bilang ia sudah sounding ke samping ke bawah atas, semuanya mendukung Pak Nasar. Namun, saya tetap merasa bukan orang yang paling tepat menjadi imam besar. Karena, masih banyak senior-senior saya, masih banyak ulama-ulama lain yang lebih kompeten untuk menduduki posisi itu.
Mengapa Anda merasa posisi Imam Besar itu berat?
Karena kalau di luar negeri, imam besar masjid itu bukan hanya imam tapi juga pemimpin umat, jadi representasi umat Islam. Memang saya juga pernah jadi imam besar di Amerika, tahun 2004-2005. Pulang dari sana saya kembali ke Masjid Sunda Kelapa.
Bukankah Anda sudah sering mengelola masjid?
Iya. Selain Masjid Sunda Kelapa, sebelum ke Amerika saya juga terlibat di Masjid At-tiin, Taman Mini. Kembali ke UIN Jakarta jadi pembantu rektor disitu, pembantu rektor empat, kemudian pembantu rektor 3, mengelola masjid kampus juga. Jadi itu pengalaman-pengalaman kecil dari masjid ke masjid. Setelah menjadi wakil menteri agama dan dirjen Bimas Islam kemenag, Istiqlal ini tidak asing buat saya. Sebab ketika saya masih dirjen dulu selama enam tahun, Istiqlal memang ada di bawah dirjen Bimas Islam. Anggarannya, pembinannya di bawah direktorat saya pada waktu itu kemudian naik menjadi wamenag anggarannya juga tetap kita pertahankan.
Kenapa?
Karena kalau kita mengharapkan dana dari dalem masjid yang 12 hektare ini dengan lantai empat ditambah basement dengan karyawannya 300 an orang pasti tidak cukup. Sementara ini kan jadi lambang negara, simbol negara, kalau ini kumuh Indonesia malu.
Berat mana menjadi imam besar dibanding jadi dirjen dan wamenag?
Menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal bagi saya lebih berat bebannya dibanding menjadi dirjen bahkan wamenag. Tanggung jawab moril Imam Besar Masjid Istiqlal lebih besar daripada menteri agama. Kalau menteri agama semua ada aturannya, ada konstitusinya. Sementara Masjid Istiqlal sangat otonom. Masjid ini juga menjadi representase lahir batinnya masyarakat Indonesia. Kita tidak boleh main-main. Kita harus mengarahkan umat ini ke depan seperti apa.
