Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof Dr Nasaruddin Umar

Istiqlal Bisa Jadi Kiblat Peradaban Umat Islam Dunia

Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar
Sumber :
  • VoxPop.co.id/Muhamad Solihin

Maksudnya memproduksi pemikiran?
Iya. Masa kita belajar Islam ke Kanada, Amerika, Inggris, Prancis. Mestinya mereka itu belajar Islam itu ya ke Indonesia. Ini kan terbalik. Jadi bagaimana sampai kapan kita akan jadi konsumen pemikiran buat orang lain. Saya melihat sangat potensial Indonesia ini bisa menemukan  jati dirinya yang sangat istimewa.
 

img_title Jangan Antre! Tak Ada Pembagian Langsung Daging Kurban di Masjid Istiqlal

Istimewa?
Separuh muslim scholar Indonesia itu berasal Timur Tengah, Mesir, Sudan, Suriah, Libya, Lebanon. Separuhnya lagi dari Eropa juga ada Inggris, Belanda, Prancis, Belgia ditambah Amerika dan Kanada. Mereka itu semua pulang ke Indonesia. Timur Tengah itu sangat kaya dengan materi, tapi miskin metode. Tapi di Barat sangat kaya dengan metode tapi tidak memadai materinya. Jadi Indonesia menjadi muara perjumpaan studi di Timur dan Barat.
Jadi Indonesia bisa melahirkan sintesa raksasa menjembatani epistimologi keilmuan Barat dan epistimologi keilmuan Timur. Muaranya nanti di Indonesia, jadi madzhab Indonesia. Madzhab Indonesia itu nanti mengambil apa yang positif dari Barat, mencegah apa yang kurang bagus, dan mengambil apa yang positif dari Timur Tengah dan mengeyampingkan apa yang tidak kondusif dengan bangsa kita. Sehingga di sini ada tiga komponen, pertama adalah komponen lokalnya, arus pemikiran muslim scolars jebolan dari Barat dan Timur Tengah. Kombinasi antara Barat dan Timur Tengah, Dunia Barat, Timur Tengah dan lokal akan melahirkan madzhab Indonesia, akan melahirkan kibalat peradaban baru dalam dunia islam. Ini obesesi saya di Masjid Istiqlal ini.

Anda ingin Istiqlal menjadi simbol toleransi dan persatuan dan kesatuan. Bisa Dijelaskan?
Sebagai representasi masjid negara dan negara kita ini berdasarkan pancasila. Dan pancasila itu sangat menjunjung tinggi HAM, demokrasi, kesetaraan gender, kemudian juga menghargai pluralitas, bhinnneka tunggal ika. Jadi kultur masyarakat yang terbuka ini itu harus menjadi cerminan yang harus ada di Istiqlal. Memang kami tegas di Istiqlal ini tidak akan kami ijinkan untuk menjadi arena politik praktis. Parpol manapun, oposisi ataupun parpol yang berkuasa tidak boleh menjadikan Masjid Istiqlal melakukan praktek politik praktis. Biarlah masjid ini menjadi oase semua parpol, semua madzhab, milik semua ormas, semua umat islam, bahkan milik bangsa. 
Jadi saya terobesesi menjadikan Masjid Istiqlal ini sebagai masjid untuk semua. Jadi kita tidak boleh klaim, bahwa Masjid Istiqlal adalah masjidnya NU, masjidnya Muhammadiyah. Cuma untuk yang memberikan khotbah jumat kita harus selektif, karena saya tidak ingin menjadikan milik satu madzhab, milik satu golongan. Tapi bagaimana Masjid  Istiqlal ini masjid untuk semua.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Gibran Salat Id di Istiqlal Bareng Jan Ethes, Ada Para Menteri Juga
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut