Awalnya Kain Kafan, Sally dan Ibnu Kenalkan Batik Trusmi

Mengenal Batik Trusmi Cirebon Lebih Dekat
Sumber :
  • VoxPop.co.id/Purna Karyanto

Ibnu menambahkan, selain dapat ilmu dari jual kain ke para perajin, kita juga tahu bagaimana cara penjualan. Akhirnya mereka berdua mulai memberanikan diri membawa batik dari perajin ke pasar di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Bali. 

img_title Kain Batik 74 Meter Dibentangkan di Museum Nasional

"Kami selalu bagi tugas, Mas Ibnu kan pekerja keras jadi dia pegang manajemen dan keuangan. Nah, saya di bagian pemasarannya," ujar Sally lagi. 

Diakui keduanya, cibiran kerap mereka terima karena masih dianggap muda dan nekat. "Sejak awal menikah sudah banyak yang tidak mempercayai dan meragukan kami. Justru karena banyak cibiran itu menjadi motivasi buat saya dan suami, menjadi energi positif, dan jadi lebih semangat ingin membuktikan bahwa kita berdua bisa," tutur Sally. 

img_title Mengenal 5 Motif Batik Indonesia, Mega Mendung Sampai Papua

Sempat Tak Laku

Sally mengaku di awal berjualan batik sempat tidak laku. "Mungkin karena kita terlalu semangat dan langsung action. Tanpa survei dulu, batik apa yang laku. Jadi kita jualan ya jualan aja. Ya, akhirnya kita dapat pelajaran, memang semua itu harus beriringan jadi perencanaan dan tindakan itu harus beriringan. Tidak bisa hanya take action tanpa
tanpa tahu perencanaannya," tuturnya. 

img_title Cara Mencuci Batik Agar Awet dan Gak Cepat Buluk

Mengenal Batik Trusmi Cirebon Lebih Dekat

Diakui  Ibnu, mereka sempat ditolak saat masuk ke toko-toko untuk menawarkan dagangannya. Menurut dia, kemungkinan karena harga yang ditawarkan olehnya masih tergolong murah. Padahal saat itu produknya harus bersaing dengan perusahaan besar, dan mereka jual dengan harga tinggi. 

"Saat itu kan batik masih mahal harganya, nah kita jual di bawah harga mereka. Toko banyak yang tidak percaya, dan takut barang yang kami jual curian, akhirnya banyak yang menolak. Tapi kami terus meyakinkan dan memasok bahan ke mereka, sampai akhirnya mereka percaya," kata Ibnu.

Karena belum memiliki toko, bersama suami, Sally pun rela mendampingi hingga 30 jam perjalanan untuk mengantarkan barang dagangan. Akhirnya pada tahun 2007 setelah modal terkumpul lagi, Ibnu dan Sally memberanikan diri membuka show room di rumahnya dengan ukuran 4x4 meter. 

"Kami kan memasang bilboard yang besar tulisannya Batik Trusmi termurah dan  terlengkap. Nah orang jadi penasaran dan datang ke show room kami, jadi kalau ada barang yang mereka cari tidak ada di tempat, saya langsung lari bawa sepeda ke toko-toko untuk ambil kain yang dicari pembeli. Artinya, kami tanggung jawab dengan apa yang sudah kami iklankan itu," tutur Sally. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut