Sisi Gelap Pangeran Arab Saudi, Asingkan Ibu Kandung demi Tahta

Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammad bin Salman.
Sumber :
  • SAUDI KINGDOM COUNCIL

VoxPop – Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, penguasa de facto kerajaan, tampaknya semakin memperketat cengkeramannya pada kekuasaan menyusul gelombang penahanan lain terhadap yang dianggap sebagai penantang kekuasaannya.

img_title Terkuak, Pangeran Muda Arab Saudi Meninggal akibat Campuran Alkohol, Obat, dan Narkoba

Di antara mereka yang ditahan dalam penyisiran terakhir adalah dua bangsawan kerajaan yang paling menonjol, mantan Putra Mahkota Mohammed bin Nayef dan saudara laki-laki terakhir raja yang masih hidup, Pangeran Ahmed bin Abdulaziz.

Pemerintah Saudi belum secara resmi menanggapi laporan bahwa para pangeran dituduh melakukan plot kudeta terhadap Raja Saudi Salman dan putra mahkota, yang dikenal luas sebagai MBS.

img_title MBS Tak Izinkan Wilayah Arab Saudi Dipakai AS untuk Serang Iran

Sejak ia mengungguli saingan yang lebih senior pada tahun 2017 untuk menjadi putra mahkota, MBS telah menerima liputan yang menguntungkan di media internasional, dengan banyak laporan yang berfokus pada reformasi ekonomi dan sosialnya di kerajaan konservatif.

Kepemimpinannya yang menerapkan reformasi ekonomi dan sosial sempat mendapatkan pujian. Namun ternyata itu hanya sebentar, ternyata pangeran Arab Saudi ini memiliki sejumlah rahasia gelap yang menimbulkan berbagaikontroversi.

img_title Arab Saudi Sampaikan Belasungkawa atas Bencana Banjir di Indonesia

Berikut ini sederet sisi gelap dari Muhammed bin Salman atau biasa disapa dengan MBS, yang masih belum banyak diketahui oleh seluruh masyarakat di berbagai dunia dikutip dari aljazeera.

1. Kehancuran Udara Yaman

Pada 2015, Arab Saudi  melakukan intervensi dalam perang saudara di negara tetangga Yaman, meluncurkan kampanye udara yang menargetkan pemberontak Houthi , yang dengan cepat mendapatkan wilayah.

Dengan dukungan logistik dari Amerika Serikat, aliansi yang dipimpin Saudi-UEA kini telah melakukan lebih dari 20.000 serangan di daerah-daerah yang dikuasai Houthi dalam upaya untuk membalikkan keuntungan mereka.

Kelompok hak asasi manusia menuduh pasukan koalisi pimpinan Saudi-UEA membom tanpa pandang bulu warga sipil dan rumah sakit, sekolah dan infrastruktur lainnya.

Perang yang berlangsung lama telah menewaskan puluhan ribu orang, membuat jutaan orang kehilangan tempat tinggal dan meninggalkan sebagian besar negara di ambang kelaparan, dengan PBB menggambarkan Yaman sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Berbicara kepada Time pada April 2018, MBS membela intervensi yang dipimpin Saudi di Yaman, dengan mengatakan: “Dalam setiap operasi militer, kesalahan terjadi … Tentu saja, kesalahan apa pun yang dibuat oleh Arab Saudi atau koalisi adalah kesalahan yang tidak disengaja.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut