Hari Pahlawan, Yuk Kenalan Dengan 5 Pria Pemberani Perwakilan Indonesia di Delegasi PBB 1947
Dalam pidatonya, Sjahrir menyangkal bahwa Indonesia telah melakukan hal ilegal dan justru Belanda melayangkan tuduhan tak terbukti pada Indonesia. Pernyataan Sjahrir ini pun mampu mengesankan Dewan Keamanan PBB, bahkan mendapat pujian dari media Amerika Serikat, salah satunya New York Herald Tribune; yang dikatakan menggemparkan PBB.
Soedjatmoko
Soedjatmoko
- wikipedia
Cendekiawan Indonesia Soedjatmoko turut menjadi bagian dalam delegasi Indonesia pada Sidang Dewan Keamanan PBB 1947. Dia menjadi anggota delegasi Indonesia termuda dalam sidang tersebut. Meskipun tidak memiliki gelar akademik formal, pria kelahiran Sawahlunto, 10 Januari 1922 ini pernah menjadi Rektor Universitas PBB di Tokyo, Jepang, dari 1980 hingga 1987.
Dia juga mendapatkan banyak gelar doktor dari berbagai universitas di dunia. Sebagai seorang pemikir, Soedjatmoko selalu memadukan banyak pengetahuan untuk kehidupan manusia. Melalui forum-forum di dalam dan luar negeri, Soedjatmoko mengeluarkan pemikiran-pemikirannya mengenai permaslahan ekonomi, politik, hingga kebudayaan.
Soemitro Djojohadikusumo
Soemitro Djojohadikusumo
Soemitro Djojohadikusumo adalah seorang tokoh besar ekonomi Indonesia. Soemitro mengenyam pendidikannya di Belanda. Sekembalinya ke Indonesia pada awal 1947, Soemitro diangkat menjadi staf Perdana Menteri Sutan Sjahrir.
Dalam Sidang Dewan Keamanan PBB 1947, Soemitro mengusulkan untuk membentuk komisi pengawas perdamaian antara Indonesia dan Belanda. Dia juga menuntut Dewan Keamanan PBB untuk menarik tentara Belanda dari Indonesia.
Selain upaya diplomasi, pria kelahiran 29 Mei 1917 ini meninggalkan banyak warisan berupa jejak pemikiran bagi bangsa Indonesia. Salah satu pemikirannya yang paling terkenal adalah Sistem Ekonomi Gerakan Benteng. Sistem ini membantu usaha-usaha kecil bermodal lemah dengan sistem kredit pinjaman modal.
Kini legacy-nya menurun kepada anaknya, yang juga berperan sebagai nasionalis, yaitu Prabowo Subianto.
Charles Tambu
Charles Tambu
Charles Tambu adalah seorang lelaki berdarah Tamil dari orang tua yang merupakan imigran dari Sri Lanka. Akan tetapi ia sangat bersimpati kepada Indonesia dan membantu Indonesua mendapatkan kemerdekaan “Charles Tambu: Turunan asing tapi djiwanja Indonesia”, tertulis di Madjalah Merdeka Oktober tahun 1949.
Awalnya Tambu "diletakkan" di Indonesia oleh Belanda untuk memantau radio berbahasa Inggris.
Ia menjadi salah satu perwakilan Indonesia yang ikut hadir di delegasi PBB 1947. Presiden Soekarno bahkan langsung menerbitkan paspor Indonesia untuk Charles Tambu, seorang anak imigran yang berasal dari Sri Lanka, yang pernah diejek oleh Belanda sebagai "seorang tambi jang lari dari Singapura, kemudian bercollaborasi dengan Djepang, lalu mendjadi kaki tangan Republik Sukarno-Hatta...”
