Terlilit Utang China, Bandara di Nepal Jadi Proyek Ambisius Xi Jinping
- The Guardian
Terlepas dari klaim Tiongkok mengenai kualitas proyek tersebut, penyelidikan yang dilakukan mengungkapkan narasi yang meresahkan warga Nepal.
Berbagai individu yang terlibat dalam proyek ini dan pemeriksaan menyeluruh terhadap ribuan dokumen, menunjukkan bahwa China CAMC Engineering membuat berbagai persyaratan untuk memaksimalkan keuntungan dan melindungi kepentingan Tiongkok.
Pada saat yang sama, mereka secara sistematis menghilangkan pengawasan Nepal atas bendara tersebut.
Akibatnya, Nepal mendapati dirinya terjerat dalam utang yang besar kepada para kreditor Tiongkok, tanpa adanya arus penumpang yang diharapkan dapat membayar kembali pinjaman tersebut.
Sebelum konstruksi dimulai, menteri keuangan Nepal telah menandatangani nota kesepahaman yang mendukung proposal CAMC pada tahun 2011, bahkan sebelum proses penawaran resmi dimulai.
Perjanjian pinjaman Tiongkok secara eksklusif ini, mengizinkan perusahaan Tiongkok untuk mengajukan penawaran terhadap proyek tersebut.
Tenzing-Hillary Airport, Nepal
- Mirror
CAMC awalnya mengajukan tawaran sebesar USD 305 juta, hampir dua kali lipat perkiraan biaya bandara Nepal. Hal ini lantas menuai kritik dari para politisi Nepal, yang menuduh proses tersebut dicurangi dan harganya terlalu mahal.
Menyusul protes tersebut, CAMC menurunkan penawarannya menjadi USD 216 juta, sehingga mengurangi biaya sekitar 30 persen.
Pada tahun 2016, Tiongkok dan Nepal juga meresmikan perjanjian berdurasi 20 tahun untuk proyek tersebut, dengan seperempat pendanaan diberikan dalam bentuk pinjaman tanpa bunga.
Nepal bermaksud meminjam sisanya dari Bank Ekspor-Impor Tiongkok dengan tingkat bunga 2 persen, dan pembayaran kembali dijadwalkan akan dimulai pada tahun 2026.
Seiring dengan kemajuan konstruksi, masalah-masalah besar mulai terungkap. Otoritas Penerbangan Sipil Nepal bertanggung jawab untuk mengawasi kontraktor Tiongkok tersebut, namun kurangnya personel yang berpengalaman dan ditambah dengan tidak memadainya alokasi dana untuk konsultan maka proyek tersebut terhambat.
Kurangnya pengawasan ini memungkinkan CAMC untuk memulai pekerjaan sebelum konsultan ada dan melakukan pekerjaan konstruksi yang tidak memenuhi standar internasional.
Komponen utama, seperti uji kepadatan tanah untuk pondasi landasan pacu, dihilangkan sehingga membahayakan stabilitas landasan pacu di masa depan.
Pengawasan lainnya termasuk desain sistem drainase bandara, mengabaikan data curah hujan historis dan topografi yang landai, sehingga memicu risiko banjir.
