Upaya China Mengendalikan Dalai Lama: Perebutan Kekuasaan Spiritual dan Budaya

Dalai Lama
Sumber :
  • npr.org

Kita sudah pernah melihat pola yang sama lewat kasus Panchen Lama, tokoh agama tertinggi kedua di Tibet. Pada tahun 1995, ketika Dalai Lama mengakui anak laki-laki berusia enam tahun bernama Gedhun Choekyi Nyima sebagai Panchen Lama ke-11, pemerintah China menculik anak tersebut. Hingga kini, ia masih menjadi tahanan politik termuda di dunia dan keberadaannya tak diketahui. Sebagai gantinya, China menunjuk Gyaincain Norbu sebagai Panchen Lama versi mereka, namun sosok ini tidak dianggap sah secara spiritual oleh rakyat Tibet. Bahkan, dilaporkan bahwa pemerintah harus membayar warga sebesar 100 yuan hanya agar mereka mau menerima berkah dari Panchen Lama versi pemerintah—suatu bukti kegagalan dalam memaksakan legitimasi agama.

img_title Bendungan yang Terlalu Berlebihan? Taruhan Pembangkit Listrik Tenaga Air Himalaya China

Ilustrasi biksu Tibet.

Photo :
  • Daily Mail

Upaya China untuk mengatur urusan agama bahkan dilegalkan lewat “Perintah No. 5” yang diberlakukan tahun 2007. Aturan ini menyatakan bahwa setiap proses reinkarnasi harus mendapatkan persetujuan pemerintah. Ibaratnya, fenomena spiritual kini harus mengantongi "stempel sah" dari rezim ateis. China kini seolah ingin menguasai tidak hanya dunia fisik, tapi juga alam spiritual.

img_title Media China Ungkap Alasan Timnas China Batal Ikut Tampil di FIFA ASEAN Cup 2026 yang Akan Digelar di Indonesia

Di dalam wilayah Tibet sendiri, hubungan rakyat dengan Dalai Lama terus ditekan. Para biksu dipaksa menandatangani pernyataan bahwa mereka melepaskan ikatan spiritual dengan beliau. Siapa pun yang menyimpan foto Dalai Lama atau menyebarkan ajarannya bisa dipenjara. Anak-anak dilarang belajar bahasa ibu mereka, dan dipaksa masuk pendidikan berbahasa Mandarin untuk memutus identitas budaya. Bahkan, nama "Tibet" perlahan diganti menjadi "Xizang" dalam dokumen resmi—sebuah bentuk penjajahan bahasa untuk menghapus jejak peradaban.

Namun, dunia internasional mulai menolak campur tangan ini. Amerika Serikat lewat Undang-Undang Kebijakan dan Dukungan Tibet 2020 menegaskan bahwa kehendak Dalai Lama sendiri harus menjadi acuan utama dalam proses suksesi. Parlemen Belanda juga baru-baru ini mengesahkan resolusi yang menolak intervensi China dalam urusan penerus Dalai Lama. Langkah-langkah ini bertujuan untuk mencegah legitimasi terhadap Dalai Lama versi Beijing.

img_title China Disebut Resmi Mundur dari FIFA ASEAN Cup 2026, FIFA Langsung Cari Penggantinya

Jika kita telaah secara jujur, posisi China sungguh absurd: sebuah rezim Komunis yang mengaku tidak percaya Tuhan, kini ingin mengatur kelahiran kembali pemimpin agama Buddha. Seperti yang pernah disindir langsung oleh Dalai Lama, "Kalau pemerintah China benar-benar percaya pada reinkarnasi, sebaiknya mereka mulai dulu dengan reinkarnasi Mao Zedong dan Deng Xiaoping."

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut