Menlu Sugiono Sebut Dunia di Ruang Abu-abu: Batas Damai dan Perang Tidak Tegas

Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Sugiono
Sumber :
  • Youtube Kemlu RI

Jakarta, VoxPop – Menteri Luar Negeri (RI) Sugiono menilai situasi global saat ini memasuki fase paling berisiko dalam beberapa dekade terakhir, ditandai oleh kaburnya batas antara perdamaian dan konflik terbuka.

img_title Banyak Warga Sipil Jadi Korban, Paus Leo XIV Serukan Lagi Perdamaian di Timur Tengah

Dalam lanskap geopolitik yang semakin abu-abu dan tidak dapat diprediksi, ia menegaskan bahwa Indonesia harus menavigasi dinamika global dengan strategi yang matang, realistis, dan berdaya tahan tinggi.

Sugiono menyampaikan bahwa tatanan internasional kian rapuh akibat menguatnya kepentingan nasional sempit yang menggerus konsep keamanan bersama. Menurutnya, hukum internasional—yang selama ini berfungsi sebagai penyangga stabilitas global—semakin sering dimanipulasi demi kepentingan kekuasaan.

img_title Bertemu Menteri Palestina, Sugiono Pastikan Dukungan Penuh RI untuk Kemerdekaan Palestina

"Di tahun 2026, kita diingatkan kembali betapa rapuhnya tatanan dunia saat ini. Kepentingan nasional yang sempit mengalahkan keamanan bersama. Hukum internasional yang selama ini menjadi pagar stabilitas dunia sering disalahgunakan," kata Sugiono saat menyampaikan Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri 2026 di Jakarta, Rabu, 14 Januari 2026. 

Ia mengingatkan bahwa pelanggaran terhadap aturan bersama tanpa konsekuensi nyata berpotensi merusak fondasi sistem internasional secara menyeluruh. "Ketika aturan yang disepakati bersama dilanggar tanpa konsekuensi, maka yang runtuh bukan hanya satu aturan, melainkan kepercayaan terhadap aturan dan seluruh tatanan itu sendiri," ujarnya

img_title Sugiono dan 7 Menlu Kutuk Keras Eskalasi Israel di Masjid Al-Aqsa, Desak Dunia Ambil Sikap Tegas

Sugiono juga menyoroti melemahnya tata kelola global dalam merespons krisis internasional. Mekanisme yang dibangun pasca-Perang Dunia II, menurutnya, semakin tertinggal dari realitas geopolitik mutakhir, diperburuk oleh kecenderungan sejumlah negara kunci menarik diri dari tanggung jawab global.

"Di saat yang sama, tata kelola yang dibentuk untuk mengelola krisis semakin kesulitan mengejar realitas yang terjadi. Sejumlah negara kunci juga menarik diri dari tanggung jawab tata kelola ini," ungkapnya

Dalam konteks tersebut, dunia bergerak menuju kompetisi kekuatan yang semakin tajam dan fragmentasi yang lebih dalam. Ketergantungan ekonomi lintas negara, ditambah meningkatnya peran aktor non-negara, membuat peta risiko global semakin kompleks.

"Saat ini dunia bergerak menuju kompetisi yang tajam dan fragmentasi yang lebih dalam, yang ditandai dengan interdependensi ekonomi dan peran signifikan dari aktor non-negara," ucap Sugiono.

Kondisi ini, lanjutnya, menempatkan dunia dalam "ruang abu-abu" yang berbahaya. "Saat ini kita hidup di ruang abu-abu yang berbahaya, di mana batas antara perdamaian dan perang tidak tegas, dan tanpa celah" tuturnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut