Belum Ada Obatnya, Seberapa Mematikan Virus Nipah bagi Manusia?

Ilustrasi virus nipah
Sumber :
  • Pixabay

Penularan dari manusia ke manusia juga telah didokumentasikan, khususnya di lingkungan perawatan dengan kontak erat dan paparan cairan tubuh.

img_title Satelit Buatan Indonesia Bakal Diluncurkan di India pada 2027

Gejala: Dari Ringan hingga Berat

Infeksi virus Nipah pada tahap awal sering kali ditandai dengan gejala yang tidak spesifik, sehingga sulit dibedakan dari penyakit virus lainnya. Pasien biasanya mengalami demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, dan sakit tenggorokan.

img_title Gandeng India, Indonesia Mau Bangun Bandara Antariksa di Biak pada 2027

Sebagian pasien juga dapat mengalami gejala pernapasan seperti batuk dan sesak napas, yang meningkatkan risiko penularan melalui droplet.

Dalam banyak kasus, infeksi dapat berkembang dengan cepat menjadi gangguan saraf berat, terutama ensefalitis, hanya dalam hitungan hari. Gejalanya meliputi mengantuk berlebihan, kebingungan, kejang, hingga koma. Perkembangan cepat ini menunjukkan betapa pentingnya identifikasi dini sebelum kondisi memburuk.

img_title India Siap Revitalisasi Candi Prambanan, Fadli Zon Ungkap Alasannya

Tingkat Kematian Tinggi dan Terbatasnya Pengobatan

Tingkat kematian akibat virus Nipah tergolong sangat tinggi. Secara historis, wabah menunjukkan angka kematian antara 40 hingga 75 persen, bahkan ada klaster dengan tingkat kematian hampir 100 persen di daerah dengan fasilitas kesehatan terbatas. Angka ini membedakan Nipah dari banyak infeksi virus lain dan menegaskan pentingnya deteksi serta penanganan dini.

Dr. Mishra menekankan beratnya kondisi klinis penyakit ini.

“Penyakit ini biasanya ditandai demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, dan gangguan pernapasan. Dalam banyak kasus, virus dengan cepat menyerang otak dan menyebabkan ensefalitis,” jelasnya.

Pasien dapat mengalami kejang, koma, serta komplikasi neurologis berat. Saat ini belum ada vaksin yang disetujui untuk virus Nipah, dan pengobatan masih terbatas pada perawatan suportif intensif. Beberapa antivirus seperti remdesivir dan ribavirin pernah dicoba, namun masih bersifat eksperimental dan belum terbukti efektif untuk penggunaan rutin.

Pencegahan Adalah Kunci

Tanpa adanya terapi atau vaksin khusus, pencegahan menjadi langkah paling efektif. Menghindari konsumsi nira kurma mentah dan buah-buahan yang terpapar kelelawar, menjaga kebersihan tangan, serta menggunakan alat pelindung saat menangani hewan dapat secara signifikan menurunkan risiko infeksi.

“Pencegahan tetap menjadi strategi paling efektif. Menghindari nira kurma mentah, menggunakan perlindungan saat berinteraksi dengan hewan, dan menjaga kebersihan tangan dapat sangat mengurangi risiko tertular,” tegas Dr. Mishra.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut