Naas! Niat Bulan Madu, Pasangan Pengantin Baru China Ini Terpisah Akibat Serangan AS-Israel ke Iran

ilustrasi bulan madu
Sumber :
  • U-Report

Iran, VoxPop Sepasang suami istri asal China yang sedang berbulan madu terpaksa terpisah setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran menyebabkan penutupan wilayah udara secara luas di Timur Tengah. Situasi ini dilaporkan mengacaukan rencana perjalanan lebih dari satu juta penumpang.

img_title Harga Minyak Dunia Turun usai AS Lanjutkan Perundingan Damai dengan Iran

Menurut South China Morning Post, pasangan pengantin baru tersebut berasal dari Provinsi Zhejiang di China timur. Mereka berangkat ke Timur Tengah pada 19 Februari untuk menikmati pemandangan matahari terbenam yang terkenal di kawasan itu. Doha menjadi destinasi terakhir dalam perjalanan mereka. 

Pasangan itu menggunakan kredit maskapai untuk meningkatkan tiket mereka menjadi kelas bisnis dari Doha menuju Sydney, karena sang suami yang bermarga Yu bekerja di Melbourne.

img_title Iran Bantah Berunding dengan AS soal Selat Hormuz

Namun, kebijakan maskapai membuat mereka tidak bisa mendapatkan kursi dalam penerbangan yang sama. Sang istri yang bermarga Zheng mendapatkan tiket penerbangan pukul 09.00 pada 28 Februari, sementara Yu baru mendapat jadwal penerbangan yang sama tetapi pada hari berikutnya.

Di saat yang bersamaan pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran yang memicu gangguan besar pada perjalanan udara. Sejumlah pusat penerbangan utama di Timur Tengah, termasuk Dubai, Abu Dhabi, dan Doha, sempat menutup bandara mereka untuk sementara. Akibatnya, terjadi penundaan dan pembatalan penerbangan secara besar-besaran.

img_title Pengadilan Larang Menteri Israel Ben-Gvir Pakai Buaya Jaga Lapas Tahanan Teroris

Menurut perusahaan analisis penerbangan Cirium, sekitar 11.000 penerbangan menuju, dari, dan di dalam wilayah Timur Tengah dibatalkan. Kondisi ini berdampak pada lebih dari satu juta penumpang.

Sementara itu, Zheng berhasil meninggalkan Doha sesuai jadwal, tetapi suaminya terpaksa tertahan. Yu mengatakan bahwa jika ia menjadwalkan ulang tiketnya ke tanggal yang lebih awal, biayanya bisa mencapai sekitar 35.000 yuan atau sekitar Rp 85,6 juta. Mengganti maskapai juga dinilai mahal dan rumit. Akhirnya, ia memilih mengubah jadwal penerbangannya menjadi 13 Maret tanpa biaya tambahan.

Selama menunggu, Yu menginap di sebuah hotel di pusat Kota Doha dengan tarif sekitar 600 yuan atau sekitar Rp 1,4 juta per malam. Dari sana, ia mengaku bisa melihat rudal meledak di langit. 

Meski situasinya menegangkan, ia mengatakan layanan sarapan di hotel yang sudah termasuk dalam biaya menginap tetap berjalan seperti biasa, dan layanan pesan antar makanan juga masih tersedia.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut