Kematian Ali Larijani Guncang Iran? Ini Dampaknya dalam Perang vs AS-Israel
- Iran Int
Dalam beberapa bulan menjelang perang, perannya semakin krusial. Ia bahkan kerap dianggap menjalankan strategi harian negara saat tekanan terus meningkat.
Secara operasional, dampak kematiannya mungkin tidak langsung terasa dalam jangka pendek. Namun secara politik, peristiwa ini bisa memperkeras sikap para pemimpin Iran dan memperkuat narasi bahwa perang ini adalah ancaman eksistensial yang menargetkan kepemimpinan negara.
Dalam jangka panjang, kepergian Larijani menghilangkan salah satu tokoh dalam yang mampu membuka jalan keluar politik. Sosok seperti dirinya biasanya berperan penting bukan hanya dalam mengelola perang, tetapi juga dalam mengakhirinya.
Larijani dikenal mampu bergerak di dalam sistem keamanan sekaligus tetap menjalin komunikasi eksternal. Ia ikut membentuk kebijakan nuklir Iran dan terlibat dalam upaya diam-diam untuk membuka kembali jalur komunikasi dengan Washington, bahkan ketika ketegangan meningkat.
Hal yang tak kalah penting, ia juga berperan dalam mengelola sisi politik dari perang itu sendiri mulai dari menyusun pernyataan resmi pemerintah, memberi sinyal sikap kepada pihak lawan, hingga menjaga komunikasi dengan pihak luar, sambil tetap mendapat kepercayaan penuh dari para pemimpin di dalam pemerintahan. Ia memahami kapan situasi harus diperkeras, tetapi juga tahu kapan harus meredakannya. Tanpa dirinya, kemampuan itu tentu akan jauh berkurang.
Kematian Larijani juga berarti Mojtaba Khamenei pemimpin tertinggi baru sekaligus putra mendiang ayatollah kehilangan salah satu orang yang benar-benar memahami cara ayahnya menjalankan kekuasaan. Larijani merupakan bagian dari lingkaran dalam yang mengetahui bagaimana kekuasaan dijalankan di level tertinggi.
Meski begitu, sistem Republik Islam Iran dirancang untuk tetap bertahan meski kehilangan tokoh penting seperti Larijani. Kekuasaan tidak hilang, melainkan berpindah, sementara sistemnya tetap berjalan.
Dalam pesan-pesan terakhirnya, Larijani berbicara secara tegas. Ia menggambarkan perang ini sebagai perjuangan hidup-mati dan secara langsung menantang negara-negara Muslim dengan pertanyaan, “Kalian berpihak ke mana?” di tengah sikap diam mereka terhadap konflik yang terus memanas. Namun, ia juga menegaskan bahwa Iran tidak berniat mendominasi negara-negara tetangganya.
