Presiden Iran Tulis Surat Terbuka untuk Warga AS, Apa Isinya?
- Dok Iran
Sinyal yang Beragam dari Pemerintahan AS
Presiden AS berbicara lebih awal pada hari yang sama dengan rekan Emiratnya, Mohamed bin Zayed. Uni Emirat Arab muncul sebagai salah satu negara Teluk yang paling agresif terhadap Iran. Sebelumnya Middle East Eye melaporkan bahwa UAE siap jika perang berlangsung hingga sembilan bulan dan mendorong posisi AS yang lebih agresif.
Pada saat yang sama, negara-negara Eropa dan Bahrain sedang merancang berbagai proposal untuk mengambil kendali Selat Hormuz dari Iran. Inggris berencana menjadi tuan rumah pembicaraan tentang koalisi untuk mengamankan Selat Hormuz, sementara langkah lain sedang dibahas di Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Para analis dan diplomat berspekulasi apakah AS bisa melancarkan invasi ke pulau-pulau Iran di Teluk. Sementara itu, AS juga mempertimbangkan rencana mengirim pasukan darat untuk mengevakuasi uranium yang diperkaya dari situs nuklir yang dibom, menurut The Washington Post, yang menyebut Trump meminta pengarahan terkait rencana ini.
Meski laporan ini menunjukkan konflik yang bisa berlangsung lama, Gedung Putih mengatakan bahwa negosiasi dengan Teheran masih berlangsung.
Situasi yang Tidak Jelas
Trump berulang kali berganti sikap, antara mengancam Iran dengan pemusnahan total jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali, atau justru menarik diri dari perang.
“Kami akan pergi, apakah ada kesepakatan atau tidak. Itu tidak relevan,” katanya kepada wartawan pada Selasa.
Namun, laporan The New York Times Rabu menyebut bahwa AS bersiap menghadapi pertempuran yang lebih berat. Pentagon menggandakan armada pesawat tempur A-10 di Timur Tengah untuk mendukung pasukan darat. Dikenal sebagai ‘Warthogs’, pesawat ini dilengkapi senapan Gatling tujuh laras berkaliber 30 mm, rudal Maverick, dan bom berpemandu GPS.
Situasi makin rumit dengan upaya Pakistan menjadi mediator untuk mengakhiri konflik dan komentar Trump bahwa Iran meminta gencatan senjata.
Trump mengatakan pada Rabu bahwa Presiden Rezim Baru Iran lebih cerdas dan kurang radikal dibanding pendahulunya, serta meminta gencatan senjata AS. Iran sendiri tidak memiliki presiden baru, dan belum jelas siapa yang dimaksud Trump.
