AS Hadapi Masalah Baru, Stok Rudal Anjlok Signifikan

Kapal perusak berpeluru kendali kelas Arleigh Burke USS Thomas Hudner menembakkan rudal serang darat Tomahawk
Sumber :
  • Angkatan Laut AS/Handout via REUTERS.

VoxPop –Persediaan rudal milik Amerika Serikat dilaporkan mengalami penurunan signifikan setelah agresi militer ke Iran selama tujuh minggu. Para pakar pertahanan dan orang dalam Pentagon yang tau isi laporan tersebut mengungkap kondisi ini menimbulkan risiko jangka pendek berupa kekurangan amunisi jika terjadi konflik besar di masa depan.

img_title Penembakan di Restoran AS, Sejumlah Orang Dilaporkan Tewas

Kondisi menipisnya persediaan rudal AS ini terjadi setelah AS melancarkan serangan udara dan rentetan rudal ke berbagai infrastruktur sipil seperti jembatan, rumah sakit dan fasilitas energi dan baja di wilayah Iran.

Melansir laman presstv.ir, Rabu 22 April 2026, berdasarkan analisis terbaru dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengungkap bahwa militer AS telah menghabiskan setidaknya 45 persen rudal prescision strike, lebih dari separuh pencegat THAAD, serta hampir 50 persen stok rudal pertahanan udara PATRIOT selama agresi militer tersebut. Data ini disebut sejalan dengan informasi rahasia dari Pentagon yang diketahui oleeh tiga orang sumber.

img_title Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran

Tak sampai di situ, militer AS juga dilaporkan telah menggunakan sekitar 30 persen rudal Tomahawk, lebih dari 20 persen rudal jarak jauh Joint Air-to-Surface Standoff Missiles (JASSM), serta antara 10 hingga 20 persen rudal SM-3 dan SM-6.

Meski Pentagon telah menandatangani kontrak untuk meningkatkan produksi rudal, waktu pengiriman disebut tetap memakan waktu tiga hingga lima tahun, bahkan dengan kapasitas yang sudah ditingkatkan.

img_title AS Akan Berlakukan Deposit Visa hingga Rp360 Juta Bagi Warga 50 Negara, Indonesia Termasuk?

Mantan Kolonel Marinir AS, Mark Cancian, yang turut menyusun laporan CSIS, memperingatkan bahwa agresi militer ini telah menciptakan jendela kerentanan yang meningkat terutama di kawasan Pasifik Barat. Dalam kondisi ini, stok senjata dinilai tidak cukup untuk menghadapi lawan setara seperti China.

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa untuk mengembalikan persediaan rudal ke tingkat sebelum perang, dibutuhkan waktu setidaknya satu hingga empat tahun. Bahkan, untuk mencapai level yang benar-benar siap menghadapi potensi konflik di Pasifik, diperlukan waktu tambahan beberapa tahun lagi.

“Bahkan sebelum perang Iran, stok sudah dinilai tidak cukup untuk menghadapi negara dengan kemampuan setara. Kekurangan itu kini menjadi jauh lebih parah,” tulis para penulis laporan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut