Gedung Putih Dirujak Netizen AS Gara-gara Unggahan "Dua Raja" dengan Foto Trump dan Raja Charles
- Reuters
Di Gedung Putih, sekretaris pers Karoline Leavitt menuding Demokrat ikut bertanggung jawab atas meningkatnya kekerasan politik.
"Kekerasan politik ini berasal dari demonisasi sistematis terhadap dirinya dan para pendukungnya oleh para komentator, oleh anggota terpilih dari partai Demokrat dan bahkan beberapa di media," kata Leavitt kepada wartawan pada konferensi pers Gedung Putih pada hari Senin.
"Retorika yang penuh kebencian, konstan, dan penuh kekerasan yang ditujukan kepada Presiden Trump hari demi hari selama 11 tahun telah membantu melegitimasi kekerasan ini dan membawa kita ke momen gelap ini," katanya.
Sepanjang kampanye presiden 2024 dan dua tahun pertama masa jabatan Trump, sejumlah politisi Demokrat kerap menggambarkannya sebagai figur otoriter, bahkan menyebutnya fasis dan raja.
Namun tudingan Gedung Putih itu dibantah oleh Pemimpin Minoritas DPR Hakeem Jeffries.
"Dia berani berdiri di sana dan membacakan poin-poin pembicaraan yang mengkritik pernyataan-pernyataan yang diambil di luar konteks yang telah dibuat oleh Demokrat dan tidak mengatakan sepatah kata pun tentang apa pun yang telah dikatakan atau dilakukan oleh ekstremis MAGA, termasuk memberikan bantuan dan dukungan kepada pemberontak yang melakukan kekerasan di ibu kota ini pada 6 Januari yang secara brutal memukuli petugas polisi," kata Jeffries pada hari Senin.
Di tengah polemik tersebut, Trump menegaskan kembali posisinya: ia bukan raja, dan sistem politik Amerika, menurutnya, justru membatasi kekuasaan presiden melalui proses legislasi yang panjang dan penuh kompromi.
