Eks PM Qatar Bongkar Upaya Israel ‘Menjerumuskan’ AS ke Konflik Iran Sejak Era Clinton

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump
Sumber :
  • REUTERS/Jonathan Ernst/File Photo

VoxPop –Mantan Perdana Menteri Qatar, Hamid bin Jassim Al Thani menyebut perang terhadap Iran merupakan upaya panjang Israel untuk mengubah kawasan Timur Tengah secara paksa. Dalam wawancaranya dengan Al Jazeera, Hamad juga menilai pembentukan ‘NATO Teluk’ harus segera dilakukan.

img_title Tak Main-main, Iran Anggap Semua Jenis Ancaman Musuh Nyata dan Bakal Direspon Serius

“Kita sedang menyaksikan restrukturisasi besar di kawasan ini,” kata Sheikh Hamad dikutip dari laman Middle Eye East, Selasa 12 Mei 2026.

Dia mejelaskan kelompok garis keras Israel yang dipimpin Benjamin Netanyahu sebenarnya sudah berupaya mendorong Amerika Serikat melawan Iran sejak pemerintahan Bill Clinton pada tahun 90an dengan alasan program nuklir.

img_title Penembakan di Restoran AS, Sejumlah Orang Dilaporkan Tewas

Sheikh Hamad juga menilai pemerintahan AS sebelumnya termasuk pemerinathan Donald Trump periode pertama sempat ragu untuk terlibat dalam perang secara langsung. Namun kata dia, Netanyahu berhasil menjual ‘ilusi’ kepada Washington untuk melawan Iran.

“Ia meyakinkan pemerintah AS bahwa perang ini akan berlangsung singkat dan cepat, serta rezim Iran akan jatuh dalam hitungan minggu,” ujarnya, sambil menyinggung penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

img_title Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran

Ambisi Israel

Hamad mengatakan kekuatan terbesar Amerika sebenarnya terletak pada kemampuannya menghindari penggunaan kekuatan militer, bukan justru mengerahkan kekuatan tersebut.

Ia menilai Netanyahu menjadi pihak yang paling diuntungkan dari perang melawan Iran.  Dijelaskannya, Netanyahu saat ini sedang memanfaatkan perang untuk membentuk ulang kawasan sekaligus mempromosikan visi ‘Israel Raya’ lebih luas.

Sejak AS dan Israel melancarkan perang pada 28 Februari lalu, Iran disebut telah membalas dengan menyerang sejumlah negara Teluk, termasuk Qatar. Serangan itu menyasar pangkalan militer AS, infrastruktur energi, hingga fasilitas sipil.

Hamad mengecam serangan Iran terhadap fasilitas energi, industri, dan infrastruktur sipil di kawasan Teluk. Ia menegaskan negara-negara Teluk sejak awal menolak konflik tersebut.

Meski demikian, ia mengatakan kedekatan geografis dengan Iran membuat negara-negara Teluk tetap harus hidup berdampingan dengan Teheran dan membuka jalur dialog.

Menurutnya, ancaman terbesar bagi kawasan Teluk justru bukan Iran, Israel, ataupun pangkalan asing, melainkan perpecahan di antara negara-negara Teluk sendiri.

Oleh karena itu, ia mendorong pembentukan “NATO Teluk” yang terdiri dari negara-negara Teluk dengan kepentingan strategis yang sejalan, dengan Saudi Arabia sebagai tulang punggung utama.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut