Terungkap! Alasan Trump Minta Netanyahu Hentikan Serangan ke Lebanon, Ternyata Bukan Demi Perdamaian

PM Israel, Netanyahu (kiri), Presiden AS, Trump (kanan)
Sumber :
  • Reuters

Lebanon Menjadi Titik Perselisihan Utama

img_title Harga Minyak Dunia Turun usai AS Lanjutkan Perundingan Damai dengan Iran

Perbedaan pendapat antara kedua pemimpin paling terlihat dalam isu Lebanon, di mana Israel terus menjalankan operasi militer terhadap Hezbollah meskipun berbagai upaya gencatan senjata sedang dilakukan.

Iran bersikeras bahwa Lebanon harus menjadi bagian dari setiap kesepakatan regional yang lebih luas. Trump tampaknya terbuka terhadap gagasan tersebut sebagai bagian dari upaya mencapai kesepakatan, sementara Iran memperingatkan bahwa mereka dapat kembali menyerang Israel jika serangan terhadap Lebanon terus berlanjut.

img_title Iran Bantah Berunding dengan AS soal Selat Hormuz

Namun, Israel ingin melanjutkan kampanyenya sampai ancaman Hezbollah benar-benar dihilangkan. Ketegangan itu akhirnya terlihat secara terbuka ketika Trump mengakui bahwa ia sempat terlibat percakapan sengit dengan Netanyahu terkait masalah tersebut. Ia mengatakan merasa frustrasi karena tindakan Israel terhadap Hezbollah berpotensi merusak proses negosiasi dengan Iran.

Menurut laporan Axios, dalam sebuah percakapan telepon, Trump menyebut Netanyahu gila dan menuduhnya tidak tahu berterima kasih.

img_title Tak Main-main, Iran Anggap Semua Jenis Ancaman Musuh Nyata dan Bakal Direspon Serius

"Anda benar-benar gila. Anda mungkin sudah berada di penjara kalau bukan karena saya. Saya sedang menyelamatkan Anda. Sekarang semua orang membenci Anda. Semua orang membenci Israel karena hal ini," kata Trump kepada Netanyahu, menurut laporan Axios.

Seorang sumber juga mengatakan bahwa pada satu titik Trump sangat marah kepada Netanyahu dan mempertanyakan tindakan sang PM Israel itu. 

"Apa sebenarnya yang sedang Anda lakukan?," kata Trump. 

Trump mengkritik serangan Israel ke Beirut yang menurut otoritas Lebanon menghantam sebuah bangunan tempat tinggal, menewaskan dua orang dan melukai 20 lainnya.

Setelah Iran membalas dengan meluncurkan rudal, Trump menyerukan sikap menahan diri dan mengatakan kepada Financial Times bahwa dia  yang mengambil semua keputusan dan bukan Netanyahu.

Namun beberapa jam kemudian, Israel kembali melancarkan serangan ke Iran.

Kedua Pihak Berusaha Meredam Isu Perpecahan

Pejabat dari kedua kubu berupaya mengecilkan perbedaan yang terjadi. Trump mendorong pendekatan yang lebih hati-hati agar pasar tidak terguncang dan jalur diplomasi tetap terbuka. Sebaliknya, para pejabat Israel berpendapat bahwa serangan Iran memerlukan respons yang tegas.

Dalam sebuah podcast New York Post, Trump mengakui bahwa dirinya memang menyebut Netanyahu "gila" dan menuduhnya tidak tahu berterima kasih.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut