Kampanye Asimiliasi Tiongkok di Mongolia Dalam Kini Meluas ke Ranah Digital

Kehidupan penduduk Mongolia.
Sumber :
  • U-Report

Jakarta, VoxPop – Kampanye asimilasi Tiongkok di Mongolia Dalam telah memasuki fase baru yang mengkhawatirkan. Dahulu terbatas pada ruang kelas dan lembaga resmi, penindasan budaya Mongolia kini meluas ke ranah digital, menghapus tempat perlindungan terakhir bagi penutur bahasa Mongolia: komunitas daring.

img_title JLL Ungkap Tantangan dan Implikasi dari Ekspansi Global Perusahaan Real Estate Tiongkok

Sebuah laporan Januari 2026 oleh PEN America dan Pusat Informasi Hak Asasi Manusia Mongolia Selatan mendokumentasikan penghapusan sistematis konten berbahasa Mongolia dari platform Tiongkok—grup obrolan dibubarkan, akun dihapus, dan ruang budaya dibungkam.

Ini bukanlah reaksi terhadap separatisme atau kerusuhan. Mongolia Dalam tidak pernah menimbulkan ancaman separatis. Sebaliknya, ini adalah program penghapusan budaya proaktif yang menargetkan salah satu minoritas paling damai di Tiongkok.

img_title Ilusi Otonomi Rakyat Tibet

Dari Ruang Kelas ke Dunia Maya 

Kampanye ini dimulai pada tahun 2020 ketika Beijing mewajibkan bahasa Mandarin sebagai bahasa pengantar untuk sastra, sejarah, dan politik. Hal ini memicu protes terbesar yang pernah terjadi di Mongolia Dalam dalam beberapa dekade.

img_title Laporan Pembela HAM Tiongkok Ungkap Fakta Mencengangkan soal Pekerja Anak

Pada tahun 2023, sekolah-sekolah telah sepenuhnya beralih ke pengajaran hanya dalam bahasa Mandarin, menghapus kelas bahasa Mongolia bahkan di taman kanak-kanak.

Gaokao, ujian masuk perguruan tinggi yang sangat penting di Tiongkok, dihilangkan unsur bahasa Mongolianya, dan pada tahun 2026, poin bonus untuk kandidat minoritas dikurangi setengahnya.

Para pejabat menggambarkan perubahan ini sebagai peluang, dengan alasan bahwa kemampuan berbahasa Mandarin meningkatkan prospek karier. Tetapi niat yang mendasarinya jelas: untuk menekan orang Mongolia secara ekonomi dan sosial agar meninggalkan bahasa ibu mereka.

Kini, kampanye tersebut telah beralih ke dunia daring. Ruang-ruang informal tempat bahasa Mongolia bertahan—grup obrolan, pembuat konten, komunitas yang terkait dengan diaspora—sedang dihapus secara sistematis.

Pembersihan digital ini menutup tempat terakhir di mana bahasa Mongolia beredar di luar rumah, memastikan bahwa kelangsungan hidup bahasa tersebut direduksi menjadi warisan budaya dan bukan praktik sehari-hari.

Rebranding Budaya dan Penindasan Identitas 

Penghapusan ini tidak terbatas pada bahasa. Pada tahun 2023, warisan Mongolia diklasifikasi ulang sebagai "budaya perbatasan," sebuah istilah yang menyerap identitas yang berbeda ke dalam narasi yang berpusat pada etnis Han.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut