Atasi Polusi Udara di Musim Kemarau, Heru Budi Pakai Water Mist Lagi

Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono (Dok. Istimewa)
Sumber :
  • VoxPop.co.id/Rahmat Fatahillah Ilham

Jakarta – Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono mengatakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI akan memakai atau mengaktifkan alat penyemprot air atau dikenal dengan water mist jika musim kemarau kembali hadir seperti tahun 2023 lalu.

img_title Heran Pemprov DKI Bakal Terbitkan Obligasi, Purbaya: Uangnya Banyak yang Belum Terpakai

"Ya (penanganan) polusi udara, di gedung-gedung tinggi seperti tahun lalu diaktifkan bersama water mist," ujar Heru di Jakarta Pusat pada Jumat, 17 Mei 2024.

Presiden Jokowi bersama Penjabat Gubernur DKI Heru Budi Hartono

Photo :
  • Biro Pers Sekretariat Presiden
img_title Wagub Rano Karno Apresiasi Dukungan Bank Jakarta di Anugerah Jurnalistik MHT 2026

Heru menjelaskan bahwa penggunaan alat water mist itu akan dioperasikan setiap pukul 09.00 hingga 10.00 WIB pada pagi hari. Kemudian, alat water mist juga akan digunakan pada sore hari yaitu pukul 15.00 hingga 16.00 WIB.

"Ya nanti kalau musim panas kami aktifkan lagi. Kan ada waktunya ya, jam 9-10. Nanti jam 3-4 sore," pungkasnya.

img_title Pramono Siapkan Tarif Transportasi Terintegrasi Jakarta, Satu Tiket untuk Berbagai Moda Segera Dihitung

Sebagai informasi, alat penyemprot air atau water mist telah digunakan oleh Pemerintah Provinsi DKI pada musim kemarau tahun 2023 lalu. 

Kini, Indonesia dilanda cuaca panas yang cukup tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan, cuaca panas yang melanda Indonesia saat ini bukan berasal dari gelombang panas atau heatwave.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, pihaknya telah melakukan pengamatan suhu. Hasilnya, kata dia, fenomena cuaca panas yang melanda Indonesia tak dapat dikategorikan sebagai heatwave.

"Khusus di Indonesia yang terjadi bukanlah gelombang panas, melainkan suhu panas seperti pada umumnya," kata Dwikorita dikutip dari laman BMKG pada Jumat, 10 Mei 2024.

Disisi lain, Dwikorita menyebut suhu panas itu juga bisa dipengaruhi oleh kondisi perairan di sekitar Indonesia. Ia menyebutkan, Indonesia memiliki iklim laut hangat dan topografi pegunungan yang dapat mengakibatkan naiknya gerakan udara.

"Karena hal tersebut dimungkinkan terjadinya penyanggaan atau buffer kenaikan temperatur secara ekstrem dengan terjadi banyak hujan yang mendinginkan permukaan secara periodik. Hal inilah yang menyebabkan tidak terjadinya gelombang panas di wilayah Kepulauan Indonesia," ujarnya.

Dwikorita menambahkan, suhu panas di Indonesia bisa saja terjadi karena pemanasan permukaan sebagai dampak dari mulai berkurangnya pembentukan awan dan berkurangnya curah hujan.

Menurutnya, kondisi yang panas itu juga merupakan sesuatu yang umum terjadi pada peralihan musim hujan ke musim kemarau.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut