Yasonna Akhirnya Minta Maaf ke Warga Tanjung Priok, Begini Faktanya
- VoxPop/Edwin Firdaus
"Mengingat kesalahpahaman serta akibat tidak mendengarkan pidato saya secara utuh di Lapas Narkotika Cipinang, pidato itu kemudian dipelintir oleh orang-orang tertentu yang pemahamannya tidak benar dan jauh dari subtansi yang dimaksudkan. Untuk itu saya meluruskan," tuturnya.
Menurut dia, penjelasannya saat itu soal faktor criminogenic dari kemiskinan justru diapresiasi oleh Kepala BNN dan Kepala BNPT yang hadir. Tujuan dia menjelaskan agar masyarakat tidak mempunyai pandangan yang terlalu punitive terhadap para narapidana, sebab crime is a social product instead of genetic product.
"Saya sungguh prihatin dengan komentar-komentar yang justru jauh dari nilai-nilai kepatutan, memberi komentar yang jauh dari maksud dan substansi yang sesungguhnya," ujarnya.
Penjelasan isi pidato
Saat itu, Yasonna menjelaskan soal crime is a social product, yakni faktor kemiskinan, pengangguran, kesenjangan pendapatan atau faktor ekonomi, disintegrasi sosial dan lainnya. Menurut dia, faktor genetik tidak signifikan menentukan kejahatan. Jika ada, kata dia, faktor determinannya sangat kecil.
"Karena kejahatan product social problems, masyarakat harus turut menyelesaikan faktor-faktor criminogen tersebut. Karena faktor kemiskinan maka slums areas (daerah kumuh) di Tanjung Priok dibanding daerah Menteng lebih cenderung (probabilitas) memiliki tingkat kejahatan lebih tinggi. Itu bukan faktor genetik atau biologis," tuturnya.
Ketika berpidato, menurutnya, dia membuat contoh ekstrem untuk menunjukan perbedaan penyebab kejahatan antara faktor genetik dan sosial ekonomi. Dia mencontohkan, dua orang bayi, di mana satu bayi yang lahir dari Ibu PSK dan ayahnya bandit dari slums areas, misalnya dari daerah slums di Tanjung Priok dan satunya bayi dari orang yang sangat berkecukupan dengan ibu sangat terdidik dan ayah pengusaha, misalnya dari Menteng.
Kemudian bayi ditukar, bayi yang dari Tanjung Priok dipelihara oleh orangtua di Menteng, dan bayi dari Menteng dipelihara di daerah kumuh oleh orangtua yang bermasalah tersebut. “Lihat 20 tahun lagi, siapa yang punya kecenderung (propensity) to commit crime? Saya yakin justru anak terlahir dari Menteng tersebut yang lebih cenderung terekspos pada perbuatan-perbuatan kriminal ketimbang anak yang terlahir dari ayah dan ibu dari Tanjung Priok tersebut,” ujar Yasonna.
