Jokowi Marahi Menteri, Fadli Zon: Tak Ada Gunanya Buat Rakyat

Wakil Ketua DPR, Fadli Zon.
Sumber :
  • VoxPop/ Anwar Sadat.

VoxPop – Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai kemarahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada para jajaran menteri saat Sidang Kabinet Paripurna pada 18 Juni 2020, tidak ada gunanya buat rakyat Indonesia. Menurut dia, Jokowi lagi frustasi.

img_title Fadli Zon Soal Pidato 'Londo Ireng' Prabowo: Cuma Bercanda, Kalau Bukan Pengkhianat Tak Perlu Tersinggung

"Menurut saya, kemarahan dalam rapat paripurna kabinet itu merupakan ekspresi rasa frustrasi Presiden dalam menghadapi situasi krisis saat ini. Tapi kemarahan itu tidak ada gunanya buat rakyat, kecuali hanya bagi pribadi Presiden," kata Fadli dikutip dari Twitter pada Rabu, 1 Juli 2020.

Menurut dia, ketika Presiden mengeluhkan tak adanya langkah extraordinary dalam mengatasi krisis, atau menganggap anggota kabinetnya tidak memiliki sense of crises. Maka, persoalan itu bukan hanya ada pada satu-dua orang menteri saja, namun melekat pada seluruh pemerintahannya.

img_title Roy Suryo Janji Tak Ambil Uang Ganti Rugi Rp206 Juta Jika Menang Praperadilan, Disumbangkan ke Panti Asuhan

Baca Juga: Disuruh Pakai Masker, Wanita Ini Marah-marah Hingga Lempar Belanjaan

"Sebab, dengan atau tanpa COVID-19, sejak awal pemerintahan ini selalu menyangkal bakal datangnya krisis. Bagaimana bisa memitigasi krisis, jika posisi pemerintah selalu menyangkal potensi dan ancaman krisis?," ujar Anggota DPR RI periode 2019-2024 ini.

img_title Gelar Adat Jokowi Terus Bertambah, Ahmad Ali: Rakyat Mengingat Hasil Kerja

Bayangkan, kata dia, ekspose kasus pertama terjadi awal Maret 2020. Namun, kebijakan pertama mengatasi pandemi sebagaimana yang dipandu UU Karantina Kesehatan, baru diambil pemerintah pertengahan April 2020 berupa kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

"Ada jeda satu setengah bulan. Jadi kalau Presiden baru marah-marah soal sense of crises di akhir bulan Juni, menurut saya justru Presiden yang tak peka dengan keadaan," jelas dia.

Makanya, Fadli mengaku prihatin menonton pidato kemarahan Presiden Jokowi di hadapan para menteri dan beberapa pimpinan lembaga tinggi negara. Padahal, kemarahan itu dilakukan saat sidang kabinet paripurna pada 18 Juni 2020, tapi rekaman baru diunggah oleh Sekretariat Presiden pada 28 Juni 2020.

"Ada dua sumber keprihatinan saya. Pertama, sebagai pemimpin, Presiden mestinya mengerti bahwa adab seorang pemimpin adalah bertanggung jawab atas kesalahan anak buahnya," katanya.

Dengan mengumbar pidato marah-marah tersebut, Fadli menilai Presiden Jokowi bukan hanya mempermalukan anak buahnya, tapi juga sedang mempermalukan dirinya sendiri sebagai pemimpin. Karena, kalau dia menyebut menterinya tak becus bekerja, sementara Presiden sendiri tidak melakukan langkah apapun untuk menghentikan, atau memutus ketidakbecusan itu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut