Survei PP IPNU: Metode Belajar dari Rumah Tidak Efektif

VoxPopnews - Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) melakukan survei mengenai pendidikan tinggi di tengah pandemi virus corona atau Covid-19. Data hasil survei menunjukkan bahwa 80,67 persen mahasiswa di Indonesia belum mendapatkan dukungan pembelajaran daring dari perguruan tinggi tempat mereka belajar.

img_title Bertarung Pulihkan Pandemi, Jalan Terjal Pemerintah Indonesia Bangkit dari Belenggu COVID-19

Padahal, mereka diwajibkan untuk mengikuti pembelajaran melalui internet. Direktur Lembaga Komunikasi Perguruan Tinggi (LKPT) PP IPNU, Toufikur Rozikin, mengatakan survei ini mengacu pada Surat Direktur Jendral (Dirjen) Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayan Nomor 302/E.E2/KR/2020 tentang masa belajar penyelenggaraan program pendidikan.

Di samping itu, survei juga mengacu pada Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan dalam Masa Darurat Covid-19, Kemendikbud telah mengganti metode belajar di sekolah dengan belajar dari rumah.

img_title COVID-19 di Jakarta Naik Lagi, Total Ada 365 Kasus

Tak ayal, dalam penelitian ini juga ditanyakan perihal fasilitas pembelajaran daring (kuliah dari rumah) yang diberikan pihak kampus mengingat sudah dilakukannya pembayaran uang kuliah.

Namun, perkuliahan biasa hanya berjalan kurang dari satu bulan sehingga banyak tuntutan mahasiswa untuk pengganti sebagian uang kuliah yang telah mereka tunaikan dengan fasilitas pembelajaran daring, seperti kuota internet. Data menunjukkan bahwa mereka yang menjawab tidak memadai berjumlah 62,53 persen, sedangkan sisanya 37,47 persen menjawab fasilitas sudah memadai.

img_title Kasus COVID-19 di DKI Jakarta Naik Sejak November 2023

Hasil survei LKPT PP IPNU juga menunjukkan 61,10 persen mahasiswa setuju dengan penggantian tugas akhir dalam hal ini skripsi diganti sesuai kebijakan perguruan tinggi seperti penulisan jurnal. Kemudian 23,39 persen menjawab tidak setuju, dan sisanya 15,51 persen menjawab tidak tahu.

“Angka ini menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa menginginkan metode baru dalam menyelesaikan tugas akhir,” kata Toufik kepada wartawan, Minggu, 3 Mei 2020.

Adapun mengenai efektivitas metode daring (belajar dari rumah), mayoritas mahasiswa menjawab tidak efektif, yakni sebesar 69,45 persen, sedang yang menjawab efektif 24,58 persen, 2,63 persen kurang efektif, 1.91 persen tidak tahu, dan 1,43 persen menjawab lainnya.

Dengan demikian, Toufik menuturkan bahwa kondisi saat ini mahasiswa menginginkan dosen memberikan pelajaran yang kreatif, dan dapat menyesuaikan kondisi fasilitas pendidikan mahasiswa, seperti jaringan internet yang lemah di beberapa daerah di Indonesia.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut