Didakwa Pencucian Uang, Jaksa Pinangki Beli BMW hingga Bayar Dokter

Jaksa Pinangki
Sumber :
  • Istimewa

VoxPop – Tak hanya didakwa menerima suap sebesar US$500 ribu dari Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra terkait pengurusan fatwa Mahkamah Agung (MA), jaksa Pinangki Sirna Malasari (PSM) juga didakwa dengan pasal pencucian uang. 

img_title 2026 Belum Habis, Aldi Taher Bakal Punya 12 Bisnis! Netizen Sampai Curiga Ada Pencucian Uang

Pencucian uang yang dilakukan Pinangki disebut Tim Jaksa Penuntut Umum, hingga bernilai miliaran rupiah, padahal gajinya saja kurang dari Rp 20 juta per bulannya.

Baca juga: Jaksa Pinangki Didakwa Terima Suap US$500 Ribu dari Djoko Tjandra

img_title Purbaya Buka Suara soal Tudingan Surat Utang Danantara Bisa Buat Pencucian Uang

Namun, ia memiliki sejumlah aset yang belakangan diduga terkait hasil dari tindak pidana. Diketahui, sebelum dicopot, jaksa Pinangki menduduki jabatan struktural sebagai Kepala Sub Bagian Pemantauan dan Evaluasi II pada Biro Perencanaan Jaksa Agung Muda Pembinaan Kejaksaan Agung selama kurun 2019-2020. Total keseluruhan gajinya sebesar Rp18.921.750 per bulan. 

Jaksa juga menimbang gaji serta pendapatan suami Pinangki, yakni seorang anggota Polri bernama Napitupulu Yogi Yusuf. Penghasilan suami Pinangki dalam kurun 2019-2020 hanya sebesar Rp11 juta per bulan.

img_title Datangi DPR, Korban Endus Dugaan Pencucian Uang di Hanania Travel

Selama 2019-2020, jaksa Pinangki juga disebutkan tidak memiliki usaha dan penghasilan tambahan resmi, serta tidak memiliki sumber penghasilan dari pencairan kredit bank atau lembaga jasa keuangan lainnya.

Sisa uang dari Djoko Tjandra atau senilai US$450 ribu diyakini JPU kemudian disamarkan dengan cara ditukarkan ke mata uang rupiah.

Disebutkan dalam dakwaan bahwa jaksa Pinangki menukarkan senilai US$337.600 menjadi sekitar Rp4.753.829.000. Hal itu dilakukan selama kurun waktu 2019-2020.

Penukaran uang dilakukan melalui orang lain yakni sopir Pinangki, Sugiarto dan staf suami jaksa Pinangki yang bernama Beni Sastrawan dan Dede Muryadi Sairih.

Pinangki juga diduga sempat memberikan instruksi khusus kepada sopirnya agar penukaran uang tak terlacak PPATK.

"Terdakwa memerintahkan sopirnya yang bernama Sugiarto untuk menukarkan mata uang dolar Amerika Serikat dengan perintah setiap kali penukaran tidak boleh melebihi jumlah Rp500 juta dengan maksud agar tidak terpantau PPATK," kata jaksa.

Kemudian, uang Rp4,7 miliar dari hasil penukaran itu dipakai untuk kepentingan pribadi jaksa Pinangki, di antaranya yakni membeli mobil BMW X-5, membayar dokter kecantikan di Amerika Serikat, hingga untuk membayar kartu kredit. Selain itu, juga diduga dipakai jaksa Pinangki untuk menyewa dua apartemen mewah di Jakarta Selatan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut