HMI Minta RI Tak Akui Laporan China Terkait Populasi Uighur

Ormas Islam menggelar aksi demonstrasi bela Uighur di depan Kedubes China.
Sumber :
  • VoxPopnews/ Bayu Januar.

AS menuduh China melakukan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan karena menjalankan kampanye penahanan massal, penindasan, dan sterilisasi terhadap Uighur dan sebagian besar etnis minoritas muslim lainnya.

img_title Media China Ungkap Alasan Timnas China Batal Ikut Tampil di FIFA ASEAN Cup 2026 yang Akan Digelar di Indonesia

Laporan yang tak terhitung jumlahnya telah merinci tahanan yang mengalami penyiksaan, aborsi paksa, serta pendidikan ulang dalam apa yang digambarkan oleh mantan menteri luar negeri Mike Pompeo sebagai "asimilasi paksa dan akhirnya penghapusan" orang Uighur oleh pemerintah China.

“Sudahlah, stop kekejian terhadap muslim Uighur. China jangan terus mengelak dan hambat penyidikan yang dilakukan Komisaris Tinggi HAM PBB atau organisasi HAM independen internasional di Xinjiang,” kata Romadhon.

img_title China Disebut Resmi Mundur dari FIFA ASEAN Cup 2026, FIFA Langsung Cari Penggantinya

China meluncurkan membantah fakta dan bukti genosida terhadap muslim Uighur, dan melakukan beberapa langkah terhadap kebijakan otoritas bea cukai Barat untuk memblokir produk Xinjiang yang diduga diproduksi dengan kerja paksa.

Akan tetapi, seiring dengan upaya China menstrerilkan image mereka sebagai algojo jutaan muslim Uighur, berbagai dokumen, foto dan video terkait aksi genosida yang dilakukan oleh negeri panda ini, beredar luas di publik.

img_title Sebelum ke GIIAS 2026, Cek Dulu Harga 5 Mobil Listrik China Termurah

Akibatnya, semakin banyak negara-negara di dunia yang ikut menentang perlakuan China terhadap muslim Uighur.

“Coba bayangkan, negara zionis Israel yang dikenal berseberangan dengan umat muslim, ikut mengecam apa yang mereka sebut penindasan China terhadap komunitas Uighur,” kata Romadhon.

Israel menandatangani pernyataan bersama yang disampaikan kepada Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR), yang mendesak China untuk mengizinkan pengamat independen mengakses wilayah Xinjiang barat.

Pernyataan bersama ini juga didukung oleh Australia, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Spanyol dan AS, di mana negara-negara tersebut mengutip laporan tentang penyiksaan atau perlakuan atau hukuman yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan martabat, sterilisasi paksa, kekerasan seksual dan berbasis gender dan pemisahan paksa anak dari orang tuanya.

“Laporan yang dapat dipercaya menunjukkan bahwa lebih dari satu juta orang telah ditahan secara sewenang-wenang di Xinjiang, ada pengawasan luas yang secara tidak proporsional menargetkan orang-orang Uighur dan pelanggaran berat HAM yang menjurus pada genosida,” kata Romadhon.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut