Anindya Bakrie Sebut PFII Berpotensi Tarik Family Office China dan Hong Kong
- Antara
Jakarta, VoxPop – Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie menilai, pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) berpotensi menarik pengelola dana keluarga (family office) dari China dan Hong Kong, untuk mendirikan kantor pengelolaan kekayaan di wilayah/kawasan tersebut.
Menurutnya, minat family office dari China dan Hong Kong terhadap Indonesia cukup besar. Karenanya, kehadiran PFII dinilai dapat memperluas kerja sama ekonomi di bidang perdagangan dan investasi langsung, serta pada sektor jasa keuangan.
“Bisa dilihat bahwa yang melaksanakan kerja sama ini adalah South China Morning Post, yang artinya suatu perusahaan Hong Kong yang membawa banyak family offices. Jadi ketertarikannya dari China dan Hong Kong itu sangat besar,” kata Anindya usai menghadiri Indonesia-China Partnership Forum di Jakarta, Kamis, 23 Juli 2026.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie
- [Istimewa]
Anindya merujuk pada keterlibatan South China Morning Post (SCMP) dalam berbagai forum investasi, yang mempertemukan investor internasional dengan pemerintah dan pelaku usaha Indonesia.
Pada 17 Juli 2026, SCMP bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menggelar forum investasi di Bali, untuk membahas pembangunan ekonomi hijau serta peluang investasi di Indonesia.
Anindya mengatakan, Indonesia juga berpeluang memperluas kerja sama dengan berbagai pusat keuangan internasional, termasuk Hong Kong, untuk mendorong masuknya investasi dan pengelolaan dana ke dalam negeri.
Menurutnya, keberadaan PFII dapat melengkapi hubungan ekonomi Indonesia dan China, yang selama ini didominasi oleh perdagangan dan investasi.
“Kalau mereka investasi besar di sini, berdagang besar di sana, saya yakin ini akan jadi daya tarik sendiri buat China sehingga jadi komplet. Bukan saja berdagangnya, bukan saja investasinya, tapi juga perbankannya,” ujar Anindya.
Dia berharap, pengembangan PFII dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai tujuan investasi jangka panjang di kawasan.
"Sekaligus memperluas hubungan ekonomi Indonesia dan China ke sektor keuangan global," ujarnya. (Ant).
