Pemikiran Geopolitik Soekarno Dinilai Masih Relevan Hadapi Situasi Sekarang
“Salah satu menangkal radikalisme adalah melalui geopolitik,” jelas Dina.
“Warga Indonesia yang pergi ke Suriah bergabung dengan kelompok-kelompok teroris itu mereka mengaku sedang berbuat baik, mereka mengaku sedang berjuang. Seandainya mereka paham geopolitik apa sebenarnya yang terjadi di Suriah, bahwa di situ ada penggulingan rezim, bahwa di situ ada pertarungan wilayah jalur pipa gas dari Qatar mau ke Eropa atau dari Iran mau ke Eropa,” sambungnya.
Senada, Musa pun menyebut belum ada pemimpin dunia yang setelah berkuasa mengajak pada persaudaraan bangsa bangsa untuk perdamaian dunia. Belum ada orang yang punya pemikiran seperti itu.
“Dan itu artinya Bung Karno telah melampaui geopolitik tradisional atau geopolitik konvensional yang berbasis pada imperialisme dan kolonialisme, kepada suatu yang dia cita-citakan dan dia impikan yaitu dunia tanpa imperialisme dan kolonialisme,” tegasnya.
Khoirul Umam pun menyebut, belajar geopolitik Soekarno artinya berimajinasi untuk membangun kepemimpinan indonesia dalam seluruh aspek kehidupan karena yang kita hadapi kolonialisme dan imprealisme dengan gaya baru.
