Perjalanan ke Mina dan Lempar Jumroh yang Penuh Perjuangan
- MCH 2023 | Lutfi Dwi Pujiastuti
Mekah - Menjalankan rangkaian ibadah haji, bukan hanya membutuhkan materi, tapi juga fisik yang kuat.
Seluruh rangkaian ibadah haji mulai dari lempar jumroh, mabit di Mina hingga menjalankan tawaf dan Sai butuh kekuatan. Hal ini karena rata-rata ibadah mengharuskan jemaah untuk berjalan kaki.
Bagi jemaah lansia, sejak awal diimbau, jika tak mampu akan lebih baik dibadalkan.
Namun, tak sedikit dari jemaah haji lansia serta memiliki riwayat penyakit, memaksakan diri untuk tetap menjalankan ibadah mandiri. Alhasil, tak jarang dari mereka tumbang kelelahan.
Salah seorang lansia asal Palembang, mengaku kapok dan lelah. Sepanjang perjalanan menuju tenda Mina, perjalanannya harus sesaat demi sesaat terhenti. "Kaki saya sakit," keluhnya sepanjang jalan.
Salah seorang petugas pun mengatakan, jika untuk rangkaian ibadah selanjutnya tidak kuat, bisa dibadalkan atau diwakilkan. Sang ibu mengatakan, " Iya, besok saya badalkan saja, ga kuat," katanya.
Petugas Haji dampingi jemaah Indonesia berjalan kaki di Mina.
- MCH 2023 | Lutfi Dwi Pujiastuti
Bersama sang suami, jemaah asal Palembang itu memilih untuk berjalan ditemani petugas. Mulai dari sebelum masuk terowongan, ia didampingi suami jalan tertatih menuju maktab 29. Hanya berdua, tanpa rombongan.
Sempat ditawari kursi roda, sang ibu menolak. Keringat dingin mengucur. Karena tak kuat menahan kakinya yang sakit. Sesekali ditawari untuk digendong, bisa jadi sungkan, sang ibu menolak berkali-kali.
Tapi perjalanan masih jauh, tak mungkin menyerah. Awalnya mengira hanya 1 km, tapi ternyata perjalanan 5 km harus terlampaui. Bagi anak muda, jarak itu sudah bikin kaki pegal, apalagi lansia. Buat motivasi, jalan perlahan 10 menit, istirahat kembali 5 menit. Seperti itu terus hingga perjalanan perlahan menemui titik tujuan. Butuh kesabaran, butuh dorongan semangat.
Sebagai petugas saya hanya bisa menyemangati, tak mampu juga berbuat banyak. Alhamdulillah, sang ibu bisa kuat. "Semangat ibu, perjalanan kita sedikit lagi, kita gak boleh nyerah," bisik saya untuk sang ibu yang sampai lupa bertanya siapa namanya.
Beruntung persediaan bekal dalam tas merah serut mencukupi. Saat berhenti, secuil roti bisa jadi penambah energi. Lanjut dengan seteguk air, tenaga terkumpul kembali.
