Jumlah Jemaah Haji Wafat Tinggi, Kemenkes dan Konjen RI Jeddah Bahas Ini
- MCH 2023
JEDDAH – Tim Asistensi Kesehatan dari Kemenkes didampingi oleh PPIH Kemenkes bertemu dengan Konsul Jenderal Republik Indonesia Eko Hartono di Jeddah pada Minggu, 9 Juli 2023.
Tim Asistensi Kesehatan terdiri dari Dirjen Tenaga Kesehatan drg. Ariyanti Anaya, MKM sebagai ketua Tim bersama anggota Kepala Pusat Kesehatan Haji Liliek Marhaendro Susilo, A.K, M.M., Kepala Biro Keuangan dan BMN Drs. Bayu tedja Mulyawan, S.H. M.Pharm, MM, Apt1 dan Direktur Pengelolaan dan Pelayanan Kefarmasian Dra. Agus Dini Banun Apt. MARS.
Dalam pertemuan ini Dirjen Aryanti menyampaikan beberapa perkembangan terkait pelaksanaan kesehatan haji. Jumlah jemaah haji wafat per 8 Juli 2023 mencapai 502 orang.
Angka ini memang lebih tinggi dari 4 tahun terakhir. Beberapa faktor yang memicu kenaikan jumlah jemaah haji wafat tahun ini karena kondisi jemaah haji Indonesia yang memiliki risiko tinggi sebesar 70 persen. Jumlah jemaah haji Lansia tahun ini mencapai 30 persen, dan ditambah lagi cuaca ekstrem di Arab Saudi.
Angka kematian diperkirakan masih akan naik karena sampai saat ini terdapat 205 jemaah haji sakit yang masih dirawat di Rumah Sakit Arab Saudi dalam berbagai kondisi keparahan.
Dalam pertemuan ini didiskusikan berbagai perbaikan pada penyelenggaraan haji yang dapat diambil tahun berikutnya.
Konjen Eko juga menyampaikan saat pertemuan dengan Menteri Agama, sebelumnya telah dibahas bahwa ke depannya akan ditata kembali sistem penyelengaraan haji dimana calon jemaah haji harus memenuhi terlebih dahulu syarat kesehatan sebelum pelunasan.
Eko menambahkan bahwa kita perlu tegas dalam penyelenggaraan haji. Jemaah haji yang diberangkatkan harus mampu tidak hanya finansial, namun juga kesehatan dan kemandirian selama pelaksanaan ibadah haji.
"Kita harus tegas bahwa yang bisa beribadah haji tidak hanya mampu secara finansial namun juga mampu secara kesehatan dan kemandirian," ungkap Konjen Eko.
Sejalan dengan hal tersebut, Dirjen Ariyanti menyampaikan ke depannya ada gagasan untuk mengintegrasikan Siskohatkes dengan database JKN yang mencakup rekam medis selama di tanah air. Masalah yang sering dihadapi dalam penyelenggaraan kesehatan haji adalah tidak adanya rekam medis jemaah haji sebelum penyelenggaraan haji.
