Poltracking, Parameter Politik Indonesia dan Voxpol Keluar dari Persepi Jelang Pilkada, Ada Apa?
- VoxPop.co.id/Andrew Tito
Jakarta, VoxPop – Tiga lembaga survei terkemuka, Poltracking Indonesia, Parameter Politik Indonesia (PPI), dan Voxpol Center Research and Consulting, menyatakan mundur dari keanggotaan Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi).
Mundurnya tiga lembaga survei kredibel ini mengundang pertanyaan akan memanasnya dinamika internal Persepi, terlebih menjelang perhelatan Pilkada serentak 2024 pada 27 November 2024.
Poltracking Indonesia sebelumnya menyatakan keluar dari keanggotaan Persepi setelah dijatuhi sanksi tidak diizinkan mempublikasikan hasil survei tanpa mendapatkan persetujuan dan pemeriksaan data oleh Dewan Etik Persepi.
Sanksi tersebut berkaitan dengan hasil survei yang dirilis Poltracking Indonesia terhadap Pilkada Jakarta 2024, dimana Poltracking Indonesia menyebutkan elektabilitas Ridwan Kamil-Suswono mencapai 51,6 persen.
Poltracking yang ditelisik Dewan Etik ihwal prosedur pelaksanaan survei, karena memiliki hasil yang berbeda dengan LSI, padahal dalam periode yang sama.
Direktur Poltracking Indonesia Masduri Amrawi dalam keterangan tertulisnya mengatakan Persepi telah memperlakukan Poltracking Indonesia sebagai anggotanya dengan tidak adil dan tendensius.
"Kami merasa diperlakukan tidak adil. Sejak hari ini kami telah memutuskan keluar dari keanggotaan Persepi. Kami keluar bukan karena melanggar etik," kata Direktur Poltracking Indonesia Masduri Amrawi dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa.
Dia menambahkan, Poltracking pada 2014 diajak bergabung ke Persepi karena pertaruhan integritas. Namun pada 2024 -- 10 tahun kemudian, Poltracking keluar dari Persepi juga karena pertaruhan integritas.
"Telah 10 tahun Poltracking bergabung bersama Persepi. Sejauh ini kami cukup bersabar dengan dinamika internal organisasi," ujarnya
Setali tiga uang. Parameter Politik Indonesia (PPI) juga memutuskan mundur dari keanggotaan Persepi, berdasarkan surat pengunduran diri tertanggal 6 November.
Direktur Eksekutif PPI, Adi Prayitno mengkonfirmasi keluarnya lembaga tersebut dari keanggotaan Persepi secara sukarela.
Dalam suratnya, PPI menulis bahwa alasan mundur dari Persepi karena restrukturisasi kepengurusan di dalam Parameter Politik Indonesia dan evaluasi arah kebijakan internal yang ingin mereka tempuh ke depan.
"Iya, mas. Keluar karena alasan kelembagaan," kata Adi Prayitno saat dikonfirmasi.
Adi menegaskan keluarnya PPI dari Persepi tidak terkait dengan hasil survei Pilkada Jakarta 2024 yang dirilis PPI, dimana hasilnya mirip dengan yang dirilis Poltracking Indonesia.
