JPPI ke Prabowo: Nunggu Korban Berapa Banyak Lagi Sampai MBG Dievaluasi Serius?

Komisi IX menggelar audiensi dengan CISDI dan GKIA terkait program MBG
Sumber :
  • Yeni Lestari/VoxPop

Jakarta, VoxPop – Presiden RI Prabowo Subianto diminta untuk mengevaluasi bahkan menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satu penyebab yang disorot yaitu banyaknya siswa atau penerima manfaat MBG yang mengalami keracunan.

img_title Prabowo Antar Langsung Kepulangan PM Anutin dari Lanud Halim

Desakan untuk menghentikan program MBG ini salah satunya datang dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI). 

JPPI dalam audiensi dengan Komisi IX DPR RI, Senin, 22 September 2025, bahkan menyoroti berapa banyak lagi korban yangj jatuh hingga akhirnya Prabowo mengevaluasi program MBG.

img_title Prabowo Minta Harga BBM Subsidi Tak Naik, BBM Nonsubsidi Ikuti Minyak Mentah Dunia

"Jadi Presiden nunggu korban sampai berapa banyak lagi, untuk bisa dievaluasi secara serius atau nunggu harus ada nyawa yang melayang," kata Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji di ruang rapat Komisi IX DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat.

Dalam rapat tersebut, JPPI lantas mengungkap data terkait kasus keracunan yang dialami siswa penerima manfaat MBG. Dia menyebut angka keracunan MBG menyentuh 1.092 kasus per 21 September 2025 

img_title Pemerintah Soal Isu Pergantian Kapolri Menguat: Tinggal Tunggu Waktunya

"Di bulan Juni sudah turun, karena memang sekolah pada Juni-Juli itu masih SPMB atau PPDB ya sehingga (angkanya) kecil. Tapi begitu sekolah sudah masuk bulan Juli, kemudian Agustus dan SPPG September ini digeber MBG-nya maka naik angkanya gila-gilaan, sampai ribuan. Saya tidak tahu kejadian semacam ini apakah sudah ada indikator KLB (kejadian luar biasa) karena peningkatannya sangat tajam sekali," ungkap Ubaid.

Adapun 5 provinsi dengan jumlah kasus keracunan terbanyak se-Indonesia. Yakni Jawa Barat dengan 2.000-an kasus, DI Yogyakarta dengan 1.000-an kasus, Jawa Tengah 700-an kasus, Bengkulu 500-an kasus dan Sulawesi Tengah 400-an kasus. 

"Ternyata ada problem system soal aturan, soal menu sehingga harus diselesaikan di level pusat tidak hanya stop di SPPG," tutur dia. 

JPPI bahkan menemukan fakta lain dalam program MBG. Ubaid menuturkan, dari 7 laporan di daerah, guru menjadi 'budak' dari pelaksanaan MBG. Kemudian, ada teken MoU yang berisi orang tua bertanggung jawab jika anaknya mengalami keracunan. 

Lalu, terjadi konflik of interest di dapur-dapur MBG hingga menyebabkan UMKM hingga warteg sekitar sekolah gulung tikar. Pemda dan Dinkes tidak diajak koordinasi dan dilibatkan dalam pemantauan pelaksanaan MBG.  

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut