Kronologi Lengkap Warga Baduy yang Dibegal Saat Jualan Madu: Ditolak Rumah Sakit Gegara Tak Punya KTP
- Tangkapan Layar Instagram @fakta.indo
Jakarta, VoxPop – Belum lama ini media sosial tengah dihebohkan dengan kasus pembegalan yang menimpa pemuda asal Baduy. Kejadian tersebut menjadi menjadi perbincangan publik dan viral di media sosial.
Diketahui korban bernama Repan, remaja berusia 16 tahun asal Baduy Dalam. Ia menjadi korban pembegalan saat berjualan madu keliling di kawasan Cempaka Putih, Jakarta, Minggu (26/10/2025).
Ilustrasi Begal.
- Istimewa.
Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan luka fisik, tetapi juga menyoroti masalah akses layanan kesehatan bagi warga yang tidak memiliki dokumen identitas resmi.
Dirangkum VoxPop Kamis, 6 November 2025, kejadian berlangsung sekitar pukul 03.00 WIB. Saat Repan tengah membawa dagangan madu keliling, empat orang pelaku bersenjata tajam menyerangnya.
Dalam serangan tersebut, remaja asal Baduy Dalam ini mengalami luka sayatan di lengan kiri dan pipi.
Tak hanya menderita luka fisik, Repan juga mengalami kerugian materi yang cukup besar. Para pelaku merampas:
1. Uang tunai Rp3 juta yang dibawa untuk modal dagangan.
2. Sebuah ponsel pinjaman.
3. 10 botol madu dagangan miliknya.
Peristiwa ini meninggalkan trauma fisik maupun psikologis bagi korban, karena serangan terjadi di tengah malam dan dilakukan secara brutal.
Penolakan Rumah Sakit Karena Tidak Memiliki KTP
Setelah mengalami luka, Repan mencoba mencari pertolongan ke rumah sakit terdekat. Sayangnya, ia ditolak karena tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP). Penolakan ini menimbulkan perdebatan terkait hak warga atas layanan kesehatan darurat, terutama bagi masyarakat adat yang tidak memiliki dokumen resmi.
Dalam kondisi luka dan lemah, Repan kemudian berjalan kaki selama kurang lebih lima jam menuju rumah salah satu pelanggannya, Johan Chandra alias Nello, di Tanjung Duren, Jakarta Barat. Setibanya di sana, Nello segera membawanya ke sebuah klinik untuk mendapatkan pertolongan awal sebelum akhirnya dirujuk ke RS Ukrida.
Di RS Ukrida, luka di tangan Repan dijahit sebanyak 10 jahitan. Saat ini, remaja asal Baduy Dalam tersebut tengah tinggal di rumah Nello untuk menjalani pemulihan.
Penjelasan Terkait Identitas Warga Baduy
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Banten, Rudi Yatmawan, menegaskan bahwa masyarakat Baduy Dalam memang tidak memiliki KTP karena mereka terikat aturan adat yang ketat. “Mereka mengikuti aturan adat sehingga tidak memiliki dokumen resmi seperti KTP. Ini bukan kelalaian, tetapi bagian dari tradisi dan budaya mereka,” jelas Rudi.
