Kala Sarwo Edhie Wibowo Kritik Pak Harto: 'Kok Anaknya Gak Ada yang Jadi Tentara'!
- Youtube
Namun nasib berpihak pada Sarwo Edhie saat itu dirinya tidak jadi dikirim ke Rusia dan menjabat sebagai Pangdam XVII/Cendrawasih. Setelahnya dia dipindah menjadi Gubernur Akmil di Akademi Militer.
Sementara itu dalamm Buku Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto, Guru Besar di Universitas Pertahanan, Salim Said menyebut setelah menjabat sebagai Gubernur Akmil, Sarwo Edhie kembali diminta untuk menjadi Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan. Menurut Salim saat itu Sarwo Edhie merasa sudah disingkirkan ketika dikirim sebagai duta besar. Awalnya Sarwo Edhie sempat menolak namun diatetap berangkat ke Seoul sebagai duta besar pertama Indonesia untuk Korea Selatan.
Setelah menjalani perannya sebagai dubes, Sarwo Edhie Wibowo kembali ke Indonesia dan diberi jabatan sebagai Irjen Departemen Luar Negeri dan direncanakan akan dilempar ke Brazil.
”Entah mengapa terjadi perubahan digeser beberapa puluh meter dari kantor Irjen Deplu, Sarwo menemukan dirinya mengurusi kursus Panasila di Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7),” kata Salim Said.
Meski kecewa, diungkap Salim Said, Sarwo Edhie tetap menjalankan tugasnya dengan sebaik mungkin. Salim juga mengungkap selama berteman dengan Sarwo Edhie dirinya tidak pernah mengeluh soal Soeharto. Satu-satunya kritik hanya mengenai kenapa anak-anak Soeharto tidak seorang pun yang menjadi tentara.
”Ketika saya berkunjung ke tempat tugasnya, saya tidak melihat atau mendengar keluhan dari pak Dubes,” kata dia.
