Diberi Gelar Pahlawan Nasional, Soeharto Dianggap Pembentuk Wajah Indonesia Modern

Bingkai foto para tokoh yang mendapat gelar Pahlawan Nasional, ada Presiden ke-2 RI Soeharto dan aktivis buruh Marsinah
Sumber :
  • Yeni Lestari/VoxPop

Jakarta, VoxPop – Dewan Penasehat Keluarga Besar Putra-Putri (KBPP) Polri, AH Bimo Suryono menilai Presiden ke-2 RI, Soeharto sudah sangat layak menerima gelar pahlawan nasional berdasarkan rekam jejak dan kiprah dalam membangun negeri ini.

img_title Kadin Puji Kepemimpinan Prabowo: Sangat Visioner dan Strategis

Gelar pahlawan nasional kepada Soeharto dianugerahi oleh Presiden ke-8 RI, Prabowo Subianto di Istana Negara pada Senin, 10 November 2025.

Ia menghormati masih terjadi kontroversi dalam penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto. Menurut dia, tidak ada pemimpin yang sempurna karena setiap zaman mempunyai konteks, dan setiap kebijakan yang diputuskan juga ada risikonya.

img_title Hasan Nasbi soal Prabowo Sebut 'Londo Ireng': Itu Istilah Orang yang Suka Gaduh

“Tapi bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menilai sejarah secara jernih dan adil. Pak Harto bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi salah satu pembentuk wajah Indonesia modern,” kata Bimo melalui keterangannya pada Rabu, 12 November 2025.

Bimo melihat pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto oleh Presiden Prabowo, bukan soal nostalgia. 

img_title Kadin Puji Program MBG Prabowo, Sebut Banyak Anak Pelosok Terbantu

Akan tetapi, ia menilai pemberian gelar pahlawan nasional tersebut sebagai bentuk pengakuan atas jasa besar yang sudah dirasakan nyata oleh bangsa ini selama Soeharto memimpin hampir 32 tahun.

“Seperti pepatah Jawa, bahwa orang yang ingat sejarah, tak akan mudah tersesat arah. Menjunjung tinggi kebaikan dan jasa-jasa seseorang, serta menyembunyikan atau memaafkan kesalahan-kesalahannya,” jelas dia.

Bimo mengungkapkan sejarah bahwa Soeharto adalah seorang pejuang militer yang berani di masa revolusi kemerdekaan sebelum menjadi Presiden ke-2 Republik Indonesia. Pada tahun 1949, lanjut dia, Soeharto memimpin Serangan Umum 1 Maret di mana berhasil merebut Yogyakarta dari Belanda.

Presiden ke-2 Republik Indonesia Soeharto.

Photo :
  • Tangkapan Layar Instagram @fakta.indo

Dewan Penasehat Keluarga Besar Putra-Putri (KBPP) Polri, AH Bimo Suryono

Photo :
  • Istimewa

“Aksi itu bukan sekadar kemenangan taktis, tapi pesan politik yang kuat kepada dunia internasional, bahwa Republik Indonesia masih hidup dan berdaulat,” ujar Ketua Umum KBPP Polri periode 2015-2021 ini.

Selain itu, Bimo menyebut Soeharto juga tampil mengambil alih komando ketika Peristiwa G30S/PKI tahun 1965 ketika menjabat Panglima Kostrad. Kala itu, Soeharto menumpas gerakan tersebut dan mengembalikan stabilitas nasional. 

“Harus diakui, tanpa keberaniannya mengambil keputusan cepat, entah seperti apa nasib Indonesia waktu itu,” tegas Bimo.

Selanjutnya, Bimo mengatakan Soeharto juga tidak haus dengan kekuasaan ketika Presiden Soekarno atau Bung Karno memberi mandat melalui Surat Perintah 11 Maret (Supersemar). Justru, Soeharto hanya menjalankan amanah sekitar 1 tahun saja untuk menstabilkan keadaan. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut